Kitab
SUTASOMA
Kitab Sutasoma digubah oleh Mpu Tantular dalam bentuk kakawin (syair) pada masa puncak kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1389). Kitab yang berupa lembaran-lembaran lontar ini demikian masyhur dalam khazanah sejarah negeri ini karena pada pupuh ke-139 (bait V) terdapat sebaris kalimat yang kemudian disunting oleh para ‘founding fathers’ republik ini untuk dijadikan motto dalam Garuda Pancasila lambang Negara RI. Bait yang memuat kalimat tersebut selengkapnya berbunyi:
Hyāng Buddha tanpāhi Çiva rajādeva
Rwāneka dhātu vinuvus vara Buddha Visvā,
Bhimukti rakva ring apan kenā parvvanosĕn,
Mangka ng Jinatvā kalavan Çivatatva tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terjemahan bebasnya:
Hyang Buddha tiada berbeda dengan Syiwa Mahadewa
Keduanya itu merupakan sesuatu yang satu
Tiada mungkin memisahkan satu dengan lainnya
Karena hyang agama Buddha dan hyang agama Syiwa sesungguhnya tunggal
Keduanya memang hanya satu, tiada dharma (hukum) yang mendua.
Dengan demikian pernyataan bhinneka tunggal ika tersebut sebenarnya merupakan bagian amat kecil dari buah karya Mpu Tantular. Sebagai bagian yang amat kecil, tak ada yang istimewa pada kata tersebut, apa lagi kemuliaan, bahkan arti harfiahnya pun sangatlah sederhana: berbeda itu satu itu (bhinne = berbeda; ika = itu; tunggal = satu; ika = itu). Lain dari itu, kalimat tersebut pun adalah bagian dari konsep beragama, samasekali jauh hubungannya dengan konsep politik seperti pada pengertian sekarang.
Lebih jauh, kitab itu pun bukanlah kitab keramat atau pantas dikeramatkan. Mpu Tantular tidak memaksudkannya sebagai kitab tempat orang berguru untuk menyelenggarakan pemerintahan di suatu Negara. Kurang-lebihnya ia adalah kitab yang bernuansa Buddha, dan menceritakan sebuah kisah yang diharapkan dapat diteladani oleh umat Buddha. Kisah tersebut adalah mengenai seorang pemuda bernama Raden Sutasoma. Dari nama tokoh utama tersebutlah kitab tersebut mendapatkan judulnya.
Adapun kisah ringkasnya:
Sang Buddha menjelma ke dunia sebagai Raden Sutasoma putra raja Mahaketu dari kerajaan Hastina. Putra raja tersebut sangat alim dan taat menjalankan berbagai perintah agama Buddha, dan selalu belajar untuk memperdalam pengetahuan agamanya. Setelah cukup umur, oleh ayahandanya ia diperintahkan untuk menikah, dan selanjutnya menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja. Akan tetapi titah ayahandanya ia tolak dengan halus. Ia belum ingin menikah ataupun menduduki singgasana Hastina, karena merasa pengetahuannya tentang agama masih terasa amat kurang.
Guna menghindari desakan lebih jauh dari ayahandanya, pada suatu malam Raden Sutasoma dengan diam-diam pergi meninggalkan istana. Tujuannya adalah ke gunung Himalaya, untuk bertapa sambil belajar agama Buddha pada para pertapa yang ditemuinya di sana. Setelah tiba di tujuan, ia mendapat berita dari seorang pertapa bahwa ada seorang raja bernama Purusaha atau Kalmasa, seorang raja penjelmaan raksasa, suka sekali memakan daging manusia.
Adapun mengapa Purusaha suka memakan daging manusia, ceritanya adalah sebagai berikut:
Suatu ketika juru masak raja tersebut kehabisan akal karena persediaan daging untuk makanan raja habis dimakan anjing. Ia telah berusaha keras mencari gantinya, namun tidak berhasil. Karena sangat takut akan murka sang Purusaha, ia terpaksa mengambil daging orang yang belum lama mati, dan memasaknya untuk baginda.
Tatkala baginda bersantap, ia merasa masakan itu sangat nikmat lebih dari masakan-masakan yang dihidangkan juru masak pada waktu-waktu sebelumnya. Maka ia pun memanggil sang juru masak, dan menanyakan apa sebabnya masakan yang ia santap menjadi selezat itu. Juru masak yang ketakutan akhirnya terpaksa berkata terus-terang tentang daging apa yang telah diolahnya di dapur istana.
Baginda ternyata tidak marah, bahkan memerintahkan untuk memasak daging-daging manusia lainnya, karena ia sangat menyukai daging jenis itu. Bertahun-tahun kebiasaan Purusaha berlangsung, bertahun-tahun pula rakyat baginda bermatian di dapur sang raja untuk memuaskan kerakusannya. Akibatnya penduduk negeri baginda tinggal sedikit karena habis dilalap raja atau mengungsi ke negeri lain yang rajanya tidak doyan makan orang.
Pada waktu Raden Sutasoma bertemu dengan pertapa itu, Purusaha atau Kalmasa sedang sakit, dan tinggal di sebuah hutan sebagai seorang raksasa. Ia berjanji jika sakitnya kelak sembuh, maka ia akan melakukan kurban seratus orang raja untuk dipersembahkan kepada dewa Kala.
Pertapa yang bercerita itu mohon kepada Raden Sutasoma untuk membunuh raksasa tadi. Tetapi Raden Sutasoma menolak permohonan itu.
Maka sang Sutasoma pun pergi dari tempat pertapa itu untuk melanjutkan perjalanan berkelana untuk berguru kepada pertapa-pertapa lain. Dalam perjalanan ini ternyata ia bertemu dengan seorang raksasa berkepala gajah. Raksasa itu mengancam akan membunuh Raden Sutasoma. Tetapi berkat kearifan dan ilmu yang dimilikinya sang pangeran dapat menundukkan raksasa tersebut dan memberinya pelajaran tentang agama Buddha. Setelah itu keduanya lalu melanjutkan perjalanan bersama.
Dalam perjalanan itu berselang beberapa waktu kemudian Raden Sutasoma melihat seekor harimau hendak menerkam anaknya sendiri. Sang pangeran segera mendapatkan harimau tersebut dan menasehati agar sang harimau mengurungkan niatnya. Karena harimau tersebut bersikeras hendak melaksanakan niatnya maka Sutasoma menawarkan dirinya menjadi mangsa sang harimau agar anak harimau tersebut terhindar dari maut. Tawaran tersebut diterima sang harimau, dan ia pun menerkam sang pangeran.
Tewasnya Raden Sutasoma membuat harimau tersebut menyesal dan amat masygul akan tindakannya. Saat itu datanglah dewa Indra ke tempat terjadinya peristiwa itu dan sang pangeran dihidupkan kembali. Harimau lantas menyerahkan diri kepada sang pangeran, bahkan menyatakan diri bersedia menjadi muridnya.
Dari sini Sutasoma melanjutkan perjalanannya kembali dan akhirnya bertapa di gunung Himalaya. Setelah masa bertapa selesai, ia pun kembali ke istana ayahnya di Hastinapura. Belum lama kemudian datanglah ke negeri itu para raksasa pengikut raja Purusada untuk meminta perlindungan. Mereka menghaturkan sembah pada Raden Sutasoma dan menyatakan bahwa mereka baru saja mengalami kekalahan dalam perang melawan raja Dasabahu. Tatkala raja Dasaahu mengetahui bahwa Sutasoma memberikan perlindungan kepada musuh-musuhnya, ia menjadi sangat marah. Tetapi manakala akhirnya ia mengetahui bahwa ia dan keluarga kerajaan Hastina masih memiliki hubungan keluarga, maka kemarahannya pun reda bahkan ia bersedia menikahkan adik perempuannya dengan Raden Sutasoma. Tak lama setelah menikah lalu sang pangeran dinobatkan oleh ayahandanya menjadi raja Hastina. Sejak itu duduklah Raden Sutasoma di atas tahta kerajaan Hastina.
Sementara itu, raja Purusada telah sembuh dari sakitnya. Ia menepati janjinya dengan menangkap seratus orang raja untuk dipersembahkan sebagai kurban kepada dewa Kala. Tetapi dewa Kala menolak persembahan tersebut, dan mengatakan bahwa ia ingin memakan daging Sutasoma raja Hastina. Mendengar itu raja Purusada pun pergi ke Hastina dan menghadap Sutasoma, lalu menceritakan apa yang telah ia lakukan dan apa pula niat dewa Kala. Sutasoma tidak berkeberatan dengan ajukan Purusada untuk menghadap dewa Kala. Kepadanya Sutasoma berkata bahwa ia bersedia menjadi mangsa dewa Kala asalkan ia membebaskan seratus orang raja yang telah diserahkan oleh Purusada padanya dibebaskan.
Mendengar ucapan Sutasoma itu raja Purusada terperanjat. Tak ia sangka Sutasoma demikian rendah hati dan rela menebus segala kejahatan yang ia lakukan. Ia merasa bersalah dan berdosa atas tindakan-tindakannya, lalu bertobat dan sejak itu tidak lagi memakan daging manusia.
Selanjutnya Sutasoma kembali ke kerajaan, dan memerintah Hastina yang menjadi kerajaan aman dan sentosa hingga akhir hayatnya. (MG06/09)

http://marganiscom.blogspot.com/2009/06/menelusuri-sejarah_11.html

Konsep tentang Tuhan/Gusti mencakup konsep tentang siapa yang disembah (sesembahan) dan tentang siapa yang menyembah dan caranya (panembah).
Sebelum datangnya Hindu & Budha banyak yang mengira Jawa menganut faham animisme & dinamisme bahkan ada yang menyebut sebagai polytheisme. Karena memang lain dari konsep yang ada kalau sekarang konsep Jawa ini lebih bisa diartikan ke arah “new age” atau malah agnostik yaitu dengan ber”tuhan” namun tidak mempercayai atau mengadopsi cerita nabi/malaikat. Karena memang mengedepankan “laku” pribadi dan menolak adanya konsep “malaikat”. Seperti yang ditelusuri oleh Prof, Purbacaraka dan juga dalam kitab tamtu panggelaran, dimana konsep awal Tuhan Jawa adalah tunggal/esa yaitu Sang Hyang Tunggal/ Sang Hyang Wenang yang merupakan konsep transendent dan Immanent dan Esa.
Setelah Hindu Budha masuk konsep tadi tersingkir dengan adanya Sang Hyang Mahadewa (Bathrara Guru) dilanjutkan dengan jaman Islam dengan masuknya Sang Hyang Adhama dan Sang Hyang Nurcahya dimana Sang Hyang Wenang “mengalah” dengan menempati posisi di bawah Sang Hyang Adhama.
Meskipun dinalar rumt dan mbulet namun dalam keberadaban Jawa yang mengutamakan “laku” hal tersebut nggak ada masalahnya, karena pada kenyataanya yang “nyanthel” atau yang melekat dalam sanubari Jawa adalah sebutan “Pangeran” atau “Gusti” yang lebih pas dirasa di kalbu Jawa bila menyebutkan konsep Tuhan. Bila menyebut Gusti rasanya “mak nyes” neng ati...seperti mas Bondan yang menyebut “mak nyus” dikala mencicipi kuliner yang nikmat.
Inilah konsep kuliner sesembahan Jawa ..”mak nyes” , yangmemang untuk dirasakan bukan untuk dianalogikan atau direkadaya (dicari-cari) namun diresapi.
Adapun mbah R. Ng. Ranggawarsito dalam bukunya Paramayoga pernah mengutarakan sesebutan sesembahan Jawa antara lain : Sang Hyang Suksma Kawekas, Sang Hyang Suksma Wisesa, Sang Hyang Amurbeng Rat, Sang Hyang Sidhem Permanem, Sang Hyang Maha Luhur, Sang Hyang Wisesaning Tunggal, Sang Hyang Wenanging Jagad, Sang Hyang Maha Tinggi, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Maha Sidhi, Sang Hyang Warmana, Sang Hyang Atmaweda dan lain-lainnya.




Panembah

Meskipun Kejawen bukan agama namun memberikan tata-cara atau tuntunan bagaimana “mamenbah” itu sendiri, namun tidak mengajarkan “how “ manembahnya. Lebih ke arah why-nya.
Why manembah ? Adalah memberikan tuntunan laku supaya bener lan pener untuk tujuan hidup yang berguna. Berguna bagi siapa ? Ya temtunya awalnya pada diri sendiri setelah itu the universe itu sendiri dalam ikut membangun peradaban dunia “melu memayu hayuning bawana” membuat cantik yang sudah tercipta cantik. Ada yang mengatakan memayu hayuning bawana adalah sesanti/filosofi yang mokal/tidak mungkin dicapai (sulit). Karena mengurusi diri sendiri dan keluarga , bebrayan saja kadang susah dan tidak sanggup kok mau mengurusi dunia. Inilah yang dulu saya sebut “kadohan panjangkamu ngger !”, seperti yang tertulis di Wedhatama. Yang disebut memayu hayuning bawana adalah wujud dari asung tuladha (budi) baik menghidupi atau menjalankan laku pribadi dengan pedoman-pedoman ide dasar jawa dulu. Contohnya : Untuk berbuat demi masyarakat sekitar tidak perlu ikut-ikutan ikut partai peserta pemilu (aku gak ngajak lho ..ini cuma perumpamaan). Namun untuk menjadi pemimpin kita bisa kok membuat (misal mampu) usaha swadaya dan swakarsa yang mengakomodasi masyarakat sekitar, sehingga bisa membantu dalam kehidupannya sehari-hari menyantuni masyarakat yang kurang mampu dan membangkitkan mereka. Rasanya lebih baik dari pada hura-hura politik apalagi dengan embel-embel agama segala. Hasilnya adalah “mbel gedhes” !


Kembali ke topic , awalnya adalah menyembah/percaya marang diri pribadi dalam menjalankan hidup dengan berdasar falsafah ke 6 dulu dengan puncaknya adalah sembah keharibaan pribadi dengan “nitisake pati” (memprioritaskan/menuju) sembah mati kembali ke asal muasal. Adapun penjelasan ringkas dari “titising pati”itu adalah bisa mengembalikan semua bahan pinjaman penyusun hidup kita yangtelah diberikan Gusti dengan bener lan pener (dengan benar dan tepat waktu serta tempat). Yang awalnya berupa materi alam semesta kembali ke alam semesta dan yang berupa materi cahaya serta teja kembali ke sumber cahya dan teja, sedangkan urip (suksma) kembali ke Gusti. Inilah konsep baku jawa yang disebut Sangkan Paraning Dumadi (nanti tak posting kapan-kapan) , namun secara singkat bisa dijelaskan bahwa sangkan paraning dumadi itu adalah 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu :

Aku berasal dari mana (lahir)
Aku mau kemana/ngapain (hidup)
Akhirnya aku ngapain dan bagimana caranya (mati)

Maka dari itu dalam peradaban jawa dikedepankan tata cara “olah rasa” sehingga bukan “hasilnya” yang dituju namun “melakukannya”. Contohnya adalah beberapa ilustrasi berikut :
Di Jawa ada yang namanya “beksan” yaitu suatu bentuk tari-tarian, coba diperhatikan tingkah laku penarinya. Untuk nyemplak selendang sang penari kadang harus muter dulu seperti tata cara olah raga melempar martil, namun tidak dengan kekeuatan tapi kualitas semplakan yang di cari.
Demikian juga untuk tembang/lagu Jawa, ada yang aneh-aneh namun kalau diperhatikan akan mengesankan dengan mengedepankan “memayu hayuning bawana” tadi. Seperti lagu/tembang “laler mengeng” (lalat berbunyi)...lha wong lalat bunyi kok dibahas ! Juga tentang lagu “tebu rubuh” (tebu jatuh” serta suluk dalang. Semua itu adalah memperhatikan konsep natural life yang harmoni.
Menjalankan sembah sejati tidak hanya urusan lahir, namun sebaiknya dilakukan dan diresapi seperti memahami lagu/tembang laler mengeng diatas. Apa sih indahnya bunyi lalat, apa sih indahnya bunyi air hujan jatuh ?. Itulah keindahan irama jiwa.

Ngelmu Karang

Ilmu sejati adalah ilmu /pengetahuan yang telah diuraikan diatas untuk mencicipi sangkan paraning dumadi, dengan olah rasa/kebatinan.spiritual. Namun ada ngelmu/pengetahuan yang tidak ada sangkut pautnya dengan memayu hayuning bawana atau sangkan paraning dumadi. Namun hanya mengedepankan “bagaimana hidup” dan “menikmati” keduniaan yaitu seperti ilmu-ilmu yang disebut ilmu karang (kekarangan = persekutuan). Yang hanya pengin hidup enak dengan kenikmatan dunia seperti “kumrubuking iwak, gumrincing ringgit lan kumlerape pupu kuning” enaknya makanan, banyaknya harta benda dan nikmatnya paha putih syahwat.
Sehingga banyak ilmu kebatinan yang dipakai untuk mencari kepuasan dunia tersebut seperti pesugihan, aji-aji, jimat, pusaka dan lain-lainnya. Di Wedhatama hal tersebut disentil oleh pengarangnya dengan menyebut kekarangan (bersekutu) dengan bangsa goib adalah tidak benar dan adakalanya bisa mencelakanan / luput saking tujuwan urip.

“Kekerane ngelmu karang, kekarengan saking bangsaning gaig, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jagad, amung aneng jabaning daging kulub, yen kapengkok ppancabaya , ubayane mbalenjani”

Ngelmu karang itu bersekutu dengan gaib, yang seperti itu ibarat boreh (pupur/kosmetik) yangtidak merasuk ke jiwa raga. Tempatnya hanya diluar daging. Bila suatu saat ingin digunakan kadang tidak mumpuni.

To be continued ...
Kawruh Kejawen(kejawaan) adalah suatu konsep falsafah hidup yang digali terus menerus sepanjang masa. Dimana konsep dasar kawruh (pengetahuan) Jawa adalah “laku” yaitu pengalaman pribadi sang pencari. Namun kenyataan sekarang opini public mengatakan bahwa Kejawen identik dengan “aliran kepercayaan” atau ada yang menganggap Kejawen adalah “agama”.
Karena sebenarnya kawruh kejawen adalah filosophy hidup yang menyangkut berbagai aspek ide dasar (falsafah) yangterdiri dari 6 falsafah dalam postingan awal saya dulu. Yaitu konsep dasar tentang hidup itu sendiri sebagai tuntunan hidup di dunia.. Disamping itu dalam kesempatan ini akan saya coba sedikit uraikan tentang konsep filoshopi hidup Kejawen dalam ranah ide dasar tentang filsafat hidup yang selain tuntunan hidup di dunia juga ngancik/masuk ke ranah filsafat kehidupan lain yaitu tentang iman dan peradaban. Memang kalau dilihat agak memper dengan konsep dasar agama yaitu faith. Namun yang membedakan adalah Kejawen tidak punya yang namanya “kitab suci”, namun mengandalkan pada “laku” menuju ke pencerahan kepribadian yaitu cipta, budi, rasa dan karsa.
Memang bener semua penganut/pencari Kejawen dipaksa harus mencantumkan kolom agama yang direstui di RI dengan memilih kelima agama yang ada. Tidak diperbolehkan mencantumkan Kejawen kalo dilihat dari kaca mata agama-agama yang direstui. Meski tidak mathuk/sesuai orang jawa selalu nrima (menerima) karena memang bukan ranah agama yang dicari. Namun ranah spiritualnya yang dicari. Orang yang ber”Tuhan” atau ber”ingsun” atau ber”aku sejati” tidak perlu harus mempunyai agama (agama yang direstui). Namun Jawa tidak pernah 100% menolak agama karena memang ide dasarnya adalah “Tuhan/Gusti/Ingsun” atau apalah konsep sesembahan itu adalah satu , satu dalam arti tunggal atau majemuk, dan manembah/menyembah adalah laku pribadi dan unik, mungkin bisa berbeda satu dan lainnya. Ini yang membuka peluang Kejawen identik dengan klenik, mistik dan lain-lainnya. Karena memang tidak ada syariat atau ritual baku dalam menyembah cuma ada konsep/ide dasar saja yang tidak mau menggurui karena ide dasar tadi adalah konsep universal yang tidak memandang minoritas dan mayoritas serta mengakomodasi sifat makluk dan manusia yang unik, tidak di gebyah uyah (tidak bisa disamakan) satu dan lainnya.

Laku peradaban jawa didasari pada konsep kesadaran religius spiritualis dimana tujuannya adalah bukan “hasil akhir” yang dicapainya namun “laku” yang memperhatikan dan menikmati “perjalanan” itu sendiri. Bertemu atau tidak tujuannya itu tidak perlu dipersoalkan namun perjalanan "laku" itu sendiri yang perlu dinikmati. Inilah kenapa jawa mengadopsi keadaan "Owah Gingsir", dimana tujuan dan cara laku bisa berubah dan berbeda setiap saat. Disini akan saya utarakan tentang konsep filosofi iman dan peradaban Jawa yang memuat 5 bahasan kawruh yaitu :

1.Adanya Tuhan/Gusti
2.Asal muasal Universe/Alam semesta
3.Mitologi Jawa
4.Peradaban Jawa
5.Penanggalan Jawa

Semoga bermanfaat dalam mengarungi samodra kehidupan yang “owah gingsir” dan “tan kena kinaya ngapa” ini , suatu jaman yang selalu berubah dan tidak bisa dipastikan.

Rahayu
Mas Cebolang
1. Pengantar

Kepercayaan dan praktek kebatinan kejawèn sudah lama hidup di Jawa. Tetapi, timbulnya aliran-aliran kebatinan sebagai suatu sistem terorganisasi adalah fenomena yang baru. Di lain pihak, zaman yang menjadi obyek tulisan ini zaman modern, karena itu hal yang disoroti dalam tulisan ini bukanlah kepercayaan kejawèn pada umumnya di Jawa, tetapi aliran-aliran kebatinan atau kepercayaan yang telah terorganisasi[1]. Mengingat adanya hubungan dengan masalah bagaimana menilai sifat Islam dalam masyarakat dan kebudayaan Jawa, Clifford Geertz menitikberatkan sifat non-Islam yaitu sifat Hindu, Budha, dan animisme masyarakat dan kebudayaan Jawa[2]. Tetapi, Geertz dikritik, oleh misalnya Mark Woodward[3], yang mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan Jawa, pada dasarnya, adalah masyarakat dan kebudayaan Islam. Para kritikus mengritik bahwa Geertz mempunyai konsep Islam yang picik dari reformis Islam. Aliran-aliran kebatinan cenderung dilihat sebagai Islam yang sesat, dan sifat khas aliran-aliran kebatinan diabaikan.

Apabila agama baru dapat berdiri sendiri dari agama yang telah terbentuk sejak lama, baik secara organisasi maupun ajarannya, agama baru ini dapat dinilai sebagai sebuah agama yang berdiri sendiri. Pada ajaran agama tersebut perlu terbentuk/adanya suatu konsep penyelamatan/keselamatan. Dalam studi agama-agama baru, dapat dilihat suatu konsep penyelamatan/keselamatan yang khas di dalam agama baru ini yang disebut dengan istilah, “konsep penyelamatan/keselamatan hidup-isme”. Sifat khas “konsep penyelamatan/keselamatan hidup-isme” ini mementingkan penyelamatan/keselamatan di dunia ini. Sebaliknya bagi konsep penyelamatan agama yang telah terbentuk sejak lama, misalnya Islam dan Kristen, penyelamatan/keselamatan terdapat di akhirat.

Berbeda dengan agama-agama besar lainnya, kebatinan adalah “produk” asli Indonesia. Agama Yahudi, Kristiani dan Islam datang dari Timur Tengah. Agama Hindu dan Budha dari India. Agama Kong Hu Cu dari Cina. “Anehnya” di Indonesia aliran-aliran kebatinan ini justru tidak dilihat sebagai agama. Tetapi ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan dan bukan dari sudut administrasi, aliran-aliran kebatinan kiranya perlu diteliti sebagai agama. Tulisan ini tidak ingin masuk terlalu jauh pada ajaran-ajaran masing-masing aliran kejawèn karena pembicaraan akan menjadi sangat luas. Ada beberapa hal yang hendak ditampilkan untuk memberi sedikit gambaran paham yang terdapat dalam aliran-aliran kejawèn.



2. Keagamaan Orang Jawa

Jawa adalah kelompok etnik terbesar di Asia Tenggara yang berjumlah lebih dari 100 juta jiwa dari sekitar lebih dari 220 juta masyarakat Indonesia. Lebih dari 85% di antara mereka memeluk agama Islam. Dalam prakteknya, terdapat suatu garis pemisah kultural yang menyolok antara mereka yang secara serius melakukan kewajiban-kewajiban agama Islam dan mereka yang tidak mengatur hidupnya menurut kaidah-kaidah formal agama Islam. Golongan ini mengikuti tradisi pikiran kejawèn yang pertama-tama diilhami oleh buah pikiran Jawa Kuno dan budaya Hindu-Budhis serta unsur-unsur tambahan dari agama Islam. Pikiran kejawèn ini mempunyai suatu ciri religius mendalam, yaitu kesadaran bahwa semua yang ada turut ambil bagian dalam kesatuan eksistensi serta ketergantungan pada suatu prinsip kosmis yang meliputi segala-galanya dan yang mengatur hidup manusia[4]. Mereka dikenal sebagai tiga kelompok besar yang berbeda secara religi dan kultural yakni kelompok “putih” atau santri, “abangan”, dan “priyayi”[5].

Karena penyebaran Islam belum mendalam sejak berdirinya kesultanan Islam Demak (+ 1500), terganggunya keamanan dikarenakan perebutan kekuasaan politik di kalangan penerus keturunan Raden Patah dan terjadinya perpecahan di antara para wali (ulama), terjadilah tiga kelompok tersebut di antara para penganut agama di kalangan orang-orang Jawa. Selain itu, pertentangan politik di antara runtuhnya kerajaan Majapahit dan mulai masuknya pengaruh Portugis (tahun 1511 M) juga turut mempengaruhi perkembangan tiga kelompok tersebut[6].



1.1 Tiga Golongan Penganut Agama Kejawèn[7]

1.1.1 Golongan Santri (belum tentu Islam, bisa Budha dan Hindu dan tradisi)

Golongan santri, yang disebut juga “Wong Putihan”, adalah orang-orang yang taat menjalankan agama Islam, tetapi mereka membiarkan sanak saudara dan tetangganya yang melaksanakan acara dan upacara adat kepercayaan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan di antara mereka masih ada juga yang disengaja atau tidak disengaja menganut kepercayaan kejawèn. Misalnya dalam upacara selamatan dengan berzikir menggunakan pedupaan dan membakar kemenyan, atau memberi sesajian (sesajèn) kepada roh-roh ghaib pada waktu-waktu tertentu, memelihara dan mendengarkan suara burung perkutut sebagai pembawa tanda dan berita baik atau buruk, melihat dan menafisrkan tanda-tanda pada tubuh manusia, menafsirkan mimpi atau datangnya ilham[8].



1.1.2 Golongan Priyayi

Tadinya golongan priyayi merupakan kaum bangsawan, aristokrasi yang dekat hubungannya dengan raja-raja Jawa. Mereka merupakan semacam perantara, penghubung antara raja dan rakyatnya[9]. Mereka terdiri dari kaum bangsawan, para keluarga istana, dan para pejabat pemerintahan yang pada umumnya mengaku beragama Islam karena politik, kedudukan atau jabatan, tetapi kebanyakan dari mereka tidak menjalankan agama Islam dengan taat. Mereka masih mempertahankan dan melaksanakan adat keagamaan Hindu Jawa dan berpegang pada ajaran mistik kejawèn yang berasal dari mistik Hindu-Budha. Ajaran mistik yang mereka anut tidak membedakan antara Ketuhanan Yang Mutlak dan manusia, bahkan antara Yang Mutlak dan Manusia dapat menjadi tubuh yang satu.



1.1.3. Golongan Abangan

Golongan abangan atau sering disebut dengan “Wong Cilik” adalah mereka yang menganut kepercayaan purba yang bercampur dengan ajaran-ajaran Hindu-Budha Jawa kuno dengan berselubung pada Islam. Dalam melaksanakan acara dan upacara keagamaannya, mereka melakukan selamatan-selamatan dengan sesajèn terhadap roh-roh gaib. Mayoritas tidak melaksanakan ajaran agama, terutama ritual-ritual dan ibadah. Kepercayaan pada dukun, orang-orang pinter, jimat-jimat dan kekuatan magic lainnya sangat tinggi[10]. Perkembangan selanjutnya adalah banyak di antara mereka yang menjadi pengikut aliran kebatinan atau kepercayaan dan di antara mereka ada pula yang menjadikan dirinya pemuka kepercayaan tersebut, seperti aliran kepercayaan Sapta Darma, Sumarah, Pengestu, Subud, dll.

Terdapat perbedaan antara universalisme dan harapan kehidupan akhirat kaum santri dengan pragmatisme dan relativisme golongan abangan di Jawa[11]. Orang-orang abangan menilai Islam sebagai agama Arab. Karena itu, mereka tidak pernah menjalankannya sepenuh hati. Bagi mereka, yang penting adalah berbuat baik dan berlaku jujur. Ibadah atau ritual tidaklah penting sehingga mesjid atau tempat ibadah lainnya tidak penting. Tempat ibadah mereka ada di dalam hati. Sebaliknya, kaum santri menuduh kaum abangan sebagai bidaah, menganut penafsiran sesat dan menjadi musyrik. Perbedaan-perbedaan dalam menilai praktik agama itu sudah menjadi bagian kehidupan di Jawa sejak munculnya Islam.
1.2 Kebatinan Kejawèn

Kebatinan (dari batin: tersembunyi, rahasia) berarti memelihara dan mengembangkan manusia-dalam dan secara umum menunjukkan mistik yang magis atau religius. Manusia-dalam dipandang sebagai semacam mikrokosmos (jagad cilik) terhadap makrokosmos (jagad gedhé) atau Hidup. Orang yang melakukan kebatinan berusaha untuk menyelaraskan diri dan akhirnya mempersatukan diri dengan prinsip itu yang meliputi segala-galanya (manunggaling kawula Gusti) dan yang merupakan awal mula serta tujuan segala-galanya (sangkan paran)[12]. Ia hendaknya melakukan itu tanpa pamrih dan hanya terdorong oleh keinginan untuk hidup selaras dengan Hidup dan tujuan segalanya. Praktek kebatinan dibenarkan karena maksud untuk mengembangkan diri pribadi seseorang, aku-nya yang sejati (ingsun sejati), terlindung dari ungkapan sosial yang nampak. Dalam kebatinan orang berusaha melaksanakan penyatuan sejati dengan Sang Hidup sambil menemukan keseimbangan pribadi lewat praktek-praktek mati raga dan samadi. Kebatinan mempunyai empat unsur yaitu ilmu ghaib, union mistik, sangkan paraning dumadi dan budi luhur[13].

Terjemahan kamus umum untuk kejawèn atau kejawaan dalam bahasa Indonesia adalah “Kejawaan” dan “Javanisme”. Javanisme atau kejawèn, yaitu agama beserta pandangan hidup orang Jawa, menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap narima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat di bawah alam semesta[14]. Kejawèn meliputi konsep kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang mistis pada hakikatnya dan hal-hal lain yang serupa[15].

Kejawèn bukanlah suatu kategori religius, namun lebih menunjuk pada sebuah etika dan sebuah gaya hidup yang diilhami oleh pemikiran Jawa sehingga ketika sebagian orang mengungkapkan kejawaan mereka dalam praktek beragama, misalnya seperti dalam mistisisme, pada hakikatnya adalah suatu karakteristik yang secara kultural condong pada kehidupan yang mengatasi keanekaragaman religius. Ada banyak orang Jawa, misalnya di Yogyakarta, yang menjalankan kewajiban agama Islam secara sungguh-sungguh, tetapi mereka tetap orang Jawa yang membicarakan kehidupan dalam perspektif mitologi wayang atau menafsirkan shalat lima waktu sebagai pertemuan pribadi dengan Tuhan. Banyak di antara mereka yang masih menghormati slametan dan ziarah makam orang tua dan leluhur. Kesadaran akan budaya mereka sendiri adalah fenomena yang tersebar luas di kalangan orang Jawa. Kesadaran kultural ini sering berlaku sebagai sumber kebanggaan dan jati diri. Orang-orang yang melestarikan warisan budaya Jawa mereka dengan sungguh-sungguh bisa dianggap sebagai orang kejawèn.

Kejawèn merupakan sebuah produk dari pertemuan antara Islam dengan peradaban Jawa kuno; produk dari penjinakan, penundukan kerajaan-kerajaan Jawa oleh kongsi dagang VOC; hasil dari pertemuan kolonial antara orang Jawa dan Belanda. Gesekan-gesekan itu memaksa orang Jawa untuk merenungkan keberadaan mereka dan memacu konstruksi sebauh jati diri Jawa. Refleksi dan konstruksi itu adalah buah dari pertentangan dengan liyan, sehingga pertentangan-pertentangan pun berkembang, seperti santri X abangan, Jawa X Eropa; Timur X Barat[16].

3. Pemikiran dan Praktek Aliran Kebatinan-Kejawèn

Apa yang dikatakan agama budaya kejawèn adalah suatu paham keagamaan campuran yang dianut orang-orang Jawa, yang merupakan ramuan di antara adat keagamaan asli Jawa yang percaya pada alam ghaib dengan pengaruh Hindu-Budha dari zaman Majapahit dan pengaruh agama Islam dari zaman Demak. Dalam perkembangannya, paham keagamaan kejawèn tersebut kadangkala lebih condong kepada Hindu-Budha, kadangkala lebih condong pada Islam, atau lebih mengutamakan kejawaannya, dan atau kemudian ada pula yang condong pada Kristen-Katolik. Kecederungan itu ada yang sifatnya sebagai pedoman hidup dan ada yang sifatnya mengejek dan mencela antara satu dengan yang lain.

Dalam pikiran kejawèn, hidup manusia dilihat sebagai suatu manifestasi dari “Yang Tunggal”, yaitu “Sang Hidup” yang meliputi segala-galanya dan yang merupakan asal mula dan tujuan terakhir. Karena itu, tata tertib kosmis dan tata tertib sosial tidak berbeda-beda secara prinsipiil dan merupakan suatu keseluruhan, dengan hasil yang bersifat cukup antroposentris bahwa kesaktian qatau dimensi sakral terdapat baik di dalam masyarakat manusia maupun di dalam eksistensi kosmis yang lebih luas. Prinsip-prinsip kejawèn diungkapkan dalam prinsip pepesthèn, yaitu kenyataan bahwa semuanya itu harus mengikuti arah yang sudah ditentukan selaras dengan “hukum kosmos”. Karena itu, pada umumnya mereka menggemari ramalan, perhitungan magis, pétungan, primbon, dsb.

Upacara pokok kejawèn adalah slametan, yaitu perjamuan kerukunan sosio-religius yang diikuti oleh para tetangga bersama dengan beberapa sanak saudara dan sahabat. Upacara ini diadakan bertepatan dengan saat-saat penting di dalam kehidupan (perkimpoian, kehamilan, kelahiran anak, kematian, dll.), peristiwa-peristiwa komunal yang setiap tahun diadakan (bersih desa, pesta dusun/kampung yang setiap tahun diadakan bersama dengan upacara pembersihan atau persucian tertentu) dan segala macam kesempatan bila kesejahteraan umum dan keseimbangan digoncangkan. Pertunjukan wayang seringkali menyertai upacara slametan yang paling penting. Sang dalang bertindak sebagai wakil “Tuhan” yang melimpahkan kekuatan dan keselamatan kepada hidup di bumi ini. Upacara-upacara pokok ini dimaksudkan untuk memperlihatkan keinginan agar selamat dengan melestarikan keseimbangan yang tidak tergoncangkan maupun untuk memulihkannya kembali manakala keseimbangan itu terganggu. Praktek religius kejawèn berpusat pada individu yang berhaluan mistik[17].

Praktek mistik kejawèn dalam berbagai bentuk dan ungkapannya merupakan suatu cara yang umum diterima untuk membebaskan diri dari tekanan hirarkis dan kemasyarakatan. Seringkali pertalian antar pribadi kelihatan lemah, bahkan pertalian perkimpoian pun seringkali tidak dapat diandalkan. Pada dasarnya manusia itu sendirian dan harus menyelamatkan diri. Mistik berarti melaksanakan diri pribadinya yang sejati. Secara sosial orang dipaksa untuk memainkan suatu peranan tertentu dan menampilkan diri sebagai seorang yang sopan. Tetapi, dalam segi lain kehidupanlah yang memberi kompensasi dan sekaligus kekuatan untuk menopang harmani sosial. Namun, pada akhirnya hubungan seseorang dengan “kenyataan yang sejati” dianggap sebagai dasar sungguh dalam kehidupan[18].

Di tengah-tengah orang Jawa, alam pikiran masa kanak-kanak yang penuh magi dan fantasi terdapat juga dalam alam pikiran orang dewasa. Orang ingin percaya akan ramalan-ramalan dan mukjizat-mikjizat, akan peristiwa-peristiwa yang akan merombak dan memperbaiki dunia, dan menantikan suatu masyarakat yang adil makmur yang akan dibawa oleh seorang tokoh eskatologis (kalau istilah ini boleh digunakan) Sang Ratu Adil. Kedatangan keadaan itu bisa dipercepat oleh hubungan yang baik dan selaras dengan semesta alam atau dengan Tuhan. Semuanya itu sangat dipengaruhi oleh doa-doa dan upacara-upacara simbolis.

Pandangan religius kejawèn dipusatkan pada kesatuan hidup. Dalam ungkapan upacara-upacara simbolis, pandangan ini berpusat pada kesatuan harmonis dalam lingkungannya sendiri, entah itu keluarganya, tetangganya atau desanya. Dalam ungkapan yang mistik, agama Jawa memusatkan perhatiannya kepada hubungan langsung dan pribadi seseorang dengan “Yang Tunggal”. Sistem-sistem mistik yang rumit dan halus dikembangkan oleh kaum cendekiawan dan golongan priyayi di kota-kota. Dalam bentuknya yang lebih sederhana dan seringkali lebih magis, mistik tersebar luas di antara kaum abangan di pedesaan dan kota-kota kecil. Maju mundurnya perhatian kepada mistik berubah selaras dengan keadaan sosial masyarakat setempat. Seringkali perkembangan ini merupakan usaha untuk mengungkapkan diri dan mencari makna di tengah-tengah suatu zaman yang kacau. Tidak jarang pula mistik ini merupakan suatu bentuk organisasi modern untuk menghidupkan kembali warisan kebudayaan Jawa. Menjadi anggota salah satu agama “resmi’ tidak mencegah orang mempraktekkan”‘mistik” di dalam hatinya. Mentalitas kejawèn memang condong kepada sinkretisme dan sanggup menampung berbagai ungkapan religius yang bersama-sama mewujudkan kesatuan Hidup[19].
Prinsip - prinsip universal telah mengaruhi budi pekerti kejawen. Namun secara tegas bahwa kejawen tidak sama dengan Islam karena islam berkiblat ke Arab namun Kejawen lahir dari bumi Indonesia. Banyak orang mengaku kejawen namun mereka menganut Islam dalam KTP. Ini menjadi pencampuran semu dan pengaburan nilai2 kejawen oleh murid2 arab sehingga membuat lari pengagum kejawen bangsa jawa terutama .

continued

7 Pesona Siem Reap

Unearthing Asia

Siem Reap, kota bekas markas tentara dari negara yang dikuasai penguasa haus darah Khmer Merah, kini berkembang secara mengagumkan menjadi tujuan wisata internasional. Bahkan Siem Reap mendapatkan status sebagai Situs Warisan Dunia dari UNESCO dan salah satu dari Tujuh Keajaiban Baru Dunia. Padahal baru 20 tahun lalu daerah ini terlarang bagi wisatawan, penduduk lokalnya diteror dan dikuasai oleh ketakutan akan salah satu rezim paling kejam di dunia.

Saat ini, dengan reruntuhan kuno di wilayah Angkor Wat, Siem Reap menjadi kota yang hidup dan pada 2007 menerima kurang lebih satu juta pengunjung melalui bandara internasionalnya. Walau Angkor Wat merupakan pusat atraksi, namun bukan berarti kota Siem Reap tidak mendapat perhatian, dengan memiliki fasilitas restoran, museum dan galeri terbaik di wilayah tersebut.

Photo credits - tylerdurden1

Angkor Wat yang Mengagumkan

Angkor Wat adalah candi terbesar, paling terpelihara baik, memiliki desain paling rumit dan paling mengagumkan di Indochina, sebuah permata di mahkota kerajaan Angkor yang luas. Candi itu merupakan sumber kebanggaan nasional dan diakui secara internasional, diselubungi relief Hindu mengenai epik Ramayana. Seperti kebanyakan candi Hindu di Asia, Angkor Wat terlihat lebih indah pada saat fajar atau menjelang matahari tenggelam, ketika langit dipenuhi warna yang menonjolkan kelima menaranya.

Photo credits - taiger808

Angka Sembilan

Untuk mengenal Asia pertama-tama Anda harus memahami kepercayaan di benua tersebut, dan ini terlihat jelas di lingkungan Angkor Thom, sebuah candi yang terpaku dengan angka sembilan. Pengucapan "sembilan" serupa dengan kata "pembangunan", dan hampir semua yang ada di candi dapat disamakan ke angka ini - 54 menara yang diukir, 216 wajah di menara, 54 dewa di sebelah kiri pintu masuk, dan 54 setan di sebelah kanannya - semua angka-angka tersebut dapat ditambahkan hingga menjadi angka 9.


Photo credits - cornstaruk

Candi-candi Lain

Candi Angkor lain yang juga terkenal adalah Ta Prohm, dikelilingi oleh akar dari pohon berusia ratusan tahun. Akar pohon itu membuat Ta Prohm jadi objek foto menarik yang sukses meraih wisatawan. Bayon dikenal juga sebagai "Candi Wajah", dan ketika Anda di sana, mudah untuk mengerti mengapa nama tersebut disandang. Begitu Anda menaiki tangga batu menuju tempat suci di bagian dalam candi, ketika memandang ke atas akan tampak ratusan ukiran wajah dari batu melihat pada anda. Ada juga Banteay Srei, sebuah candi yang dipenuhi ukiran menakjubkan memenuhi setiap inci batu yang ada di sana. Bahkan dengan teknologi yang ada sekarang, hampir mustahil membuat pola-pola setepat dan serumit itu pada patung batu.

Photo credits - jimdavidson

Revitalisasi Sungai

Sekitar 50 km timur laut Siem Reap, terdapat Sungai Seribu Lingga mengalir menuju sungai Siem Reap yang di dasarnya dipenuhi dengan ukiran Lingga - simbol phallus yang sangat umum di Kamboja. Perkiraannya, ukiran-ukiran itu dibuat antara 1100-1300 untuk melambangkan kesuburan. Kini sungai itu menjadi tempat sempurna untuk menikmati keindahan tropis Siem Reap.

Photo credits - Allie_Caulfield

Tonle Sap

Siem Reap tidak hanya memiliki satu situs terkenal di dunia arkeologi, tapi juga punya salah satu danau terbesar dan paling berwarna di Asia Tenggara. UNESCO telah menetapkan Tonle Sap sebagai cagar alam biosfer, cagar alam margasatwa air yang menjadi habitat beberapa burung langka dan menjadi satu-satunya sungai di dunia yang arus airnya berubah dua kali dalam setahun.


Photo credits - Mai...

Seni Kontemporer

Seni rupa di Siem Reap sedang dalam perkembangan, Anda dapat menemukan apa saja dari suvenir murah sampai karya seni mahal. Beberapa tempat yang patut diperhatikan para pecinta seni antara lain: The McDermott Gallery, tempat fotografi kelas dunia akan
Angkor dan wilayah di sekitarnya dipamerkan; The Red Gallery, yang memiliki koleksi seni kontemporer paling beragam dari Kamboja; dan The Asia Craft Center, tempat berbagai macam kerajinan tradisional Kamboja dan Asia Tenggara berada.

Travel Aficionado

Arsitektur Kolonial

Siem Reap juga memiliki bangunan-bangunan era kolonial peninggalan Prancis yang kini dialihfungsikan dengan baik. Terletak di persimpangan dan bundaran tenang, bangunan-bangunan itu menjadi hotel, restoran dan galeri terbaik di Siem Reap, seperti Raffles
Grand Hotel D'Angkor, hotel termewah di kota itu yang didirikan pada 1932. Hotel itu pernah disinggahi oleh berbagai tamu VIP, termasuk Raja Norodom Sihanouk, Charlie Chaplin, Sultan Johor dan bahkan Jacqueline Kennedy.
Dharmadyaksa Ring Kasogatan Majapahit

pengarang Kakawin Desawarnnanna atau Nagarakretagama

Pupuh IV

1. Karmendriyeka maka manggalanin swacitta. Karmendriyan pinaka marga mamicren suksma. Ndan san huwus wruh i panuksmanikan ya manka.

Karmendriya (lima indriya gerak, yaitu peraba tangan, peraba kaki, lidah, rasa kemaluan dan rasa dubur) adalah bagai pemimpin digaris depan. Karmendriya adalah jalan untuk mengenal Suksma (Badan Halus). Maka orang yang telah mengenal Karmendriya-nya dia pun akan mengenal Suksma-nya.

2. Wanten wretatwa wekasin paramatiguhya. Byapin pradhana pada litnika tanpa hinan. Tan dwa wibhajya bahubheda mawreddhi-wreddhi. Nyan pancawinsya saha syatwariwinsya tatwa.

Ada ajaran Kesejatian yang menjadi puncak segala rahasia, Pradhana (cikal bakal materi semesta) lahir, sangat kecilnya tiada hingga, dengan segera pecah menjadi bermacam-macam dan berlipat-lipat, menjadi dua puluh lima dan dua pua puluh empat buah intisari (material).

3. Yeka nimittanikanan sahanen triloka. Sthuladi tatwa kateken dwidasyanga tattwa. Mwan bhuta panca kalawan lima matra tattwa. Ahhin rwa hetunika yan paripurna nitya.

Itulah yang menjadi sumber adanya ciptaan di tiga alam ini, mulai yang berbentuk materi maupun Dua belas buah benda non materi yang lain (yaitu Pancandriya lima buah, Pancakarmendriya lima buah, ditambah Manah/Pikiran dan Ahamkara/Perasaan. Total Dua belas). Bersumber dari Lima Unsur Dasar (Panca Mahabhuta ~ Akasha : Ruang, Wayu : Udara, Teja : Api, Apah : Air dan Prtiwi : Tanah) dan Lima Unsur Yang Masih Halus (Matratatwa = Panca Tan Matra ~ Sabda Tan Matra sebagai cikal bakal Akasha, Sparsa Tan Matra sebagai cikal bakal Wayu, Rupa Tan Matra sebagai cikal bakal Teja, Rasa Tan Matra sebagai cikal bakal Apah dan Gandha Tan Matra sebagai cikal bakal Prtiwi). Dari kedua unsur dasar yang berasal dari Pradhana inilah sumber segala benda material dan non material menjadi sempurna.

4. Rin pancabhuta guna len lima matra siddhi. Maride wikalpa hana rin hati lot humandel. Lilamanun turida raga lulutnikan twas. Harsen katon sakarend kaharas tekapnya.

Di dalam ‘Pancabhuta (Panca Mahabhuta)’ terdapat ‘Gunna (watak dasar ~ yaitu Sattwa : Keseimbangan, Rajas : Keaktifan dan Tamas : Kelembaman)’ dan ‘Lima Matra’ = (Panca Tan Matra) yang sempurna. (Mereka) mengikat dan menjerat hati menjadi lupa dan sangat sukar dihilangkan, membuat kecenderungan senang akan asmara cinta dan kenikmatan duniawi, segala yang bagus dilihat dan yang indah didengar tercakup olehnya.

5. Ngka yan pamreddhi wekasan tikan indriyartha. Karmendriyadinikahen wisayanya purna. Sarwesta rin rasa sugandhika len swarupa. (Surupa) mwan sarwa wastu katenin hati mogha tresna.

Pada waktu itu akhirnya ‘Indryarthaa (Pancaindriya ~ yaitu Penglihatan, Penciuman, Pendengaran, Pengucapan dan Perasa seluruh badan)’ terpengaruh, ‘Karmendriya (yaitu Perasa Tangan, Perasa Kaki, Perasa Lidah, Rasa Kemaluan dan Rasa Dubur)’-lah yang terutama menjadi pemenuh keinginan, segala keinginan terhadap rasa, bau yang wangi dan wujud yang indah dari segala benda melekat di hati dengan sangat kuatnya.

6. Hinanya nirmala lawan malinatwa kirna. Mungwin swabhawanikanan dadi sarwajanma. Jumren jagat mamenubi lwanin andabhumi. Apan sira prabhu wibhuh nirakara ring rat.

Batas kesucian dan ke-tidak-sucian menjadi kabur bagi tingkah laku segala makhluk dan manusia, Pradhana ini mengembang didunia, memenuhi segenap penjuru ruangan, dialah raja yang sangat berkuasa di dunia maya ini.

7. Manka swajatinika kalih anopalabdhi. Kapwatisukstna sumilib ri manah tan imba. Durgrahya grehyaka wisyeda mahaprameya. Ekaswabhawa sira karwa wibhinnapaksa.

Demikianlah dua-duanya (Panca Maha bhuta dan Panca Tan Matra) tak dapat dilihat.
Kedua-duanya sangat lembut menyelip di hati tiada bandingan, tidak dapat diraba dan sangat gaib, tidak dapat dipikirkan ukurannya. Keduanya sebenarnya satu, tidak dapat dipisah-pisahkan.

8. Himper wulan lawan ikan gacacihna drestan. Nya tekihen wenana len kahananya mungu. Yawat lananemuki satmaka wighna saksat. Tawat tumut sumuluh in sakalanda lumrah.

Meraka itu tampak seperti bulan dengan gambar kelincinya (Didalam bulan terdapat gambar mirip kelinci menurut orang Majapahit dahulu). Dapatkah mereka itu dipisah-pisahkan? Kalau bulan terhalangi, demikian pula (kelinci) ikut tak terlihat juga. Kalau bulan menerangi alam semesta, demikian pula (kelinci) ikut bercahaya.

9. Ndah mankana n hala hajen gumelar hanen rat. Duran wiyoga saka ring patemunya karwa. Murigwin trikaya kawanun tekapin swacitta. Solah sasabda samanah maka sadhananya.

Begitu juga keberadaan kejahatan dan kebaikan di dunia. Kedua-nya amatlah sukar dipisahkan (dari ikatannya). Mereka terbentuk dari ‘Trikaya’ (Trikaya adalah Kayika : Perbuatan, Wacika : Ucapan dan Manasika : Pikiran), yang berasal dari manusia sendiri.
Segala Perbuatan, Ucapan dan Pemikiran hanyalah merupakan ungkapan dari Trikaya itu.

10. Yeki n tri hetukanikan umusir yamanda. Yapwan sininhitakening hala karmikande. Yekin tri hetunin amanguhaken triwarga. Yan sinhitin hayu n ulah ginawe pwa nitya.

Inilah tiga sebab (Trikaya) yang menjerumuskan manusia ke alam Yama (Neraka) bila cenderung ke arah yang jahat. Hukum karma yang akan membalaskannya.
(Tetapi) ketiga sebab (Trikaya) itu dapat pula membuat terpenuhinya ‘Triwarga’ (Triwarga yaitu Dharma : Kebenaran, Kama : Pemenuhan keinginan, dan Artha : Kesejahteraan duniawi) kalau segala perbutan yang senantiasa dilakukan cenderung ke arah kebaikan.

11. Anhin tri-kaya paramartha wicuddha marga. Ambalnikan pada wimoksa niratma misyra. Nahan matannya dina ratri ya tolaheka. Rapwan tumemwaken awaknin acintyatattwa.

‘Trikaya’ pula satu-satunya jalan yang utama dan suci, yang dapat membawa (manusia) ke arah ‘Moksha’ (Pembebasan) dan menyatu dengan Niratma (Yang Tanpa Atma atau Nirwana). Oleh karena itu kerjakanlah hal ini siang dan malam, agar dapat bertemu dengan Dia, Yang Tak Dapat Dicapai Dengan Pikiran (Acintya).



Pupuh V

1. Nhih durlabha dahaten ikan trikaya pagehanya wimala satata. Sanken hala ta rusitikan pinet sthiti haneriya manulahaken. Pohnin paramarasa rahasya nugraha lanamenuhi maniluman. Tan matra kawenan yadin prihen lewu wilaksana siran inusir.


Tetapi sangat sukarlah menjaga ‘Trikaya’ agar selalu suci, karena sifat jahat yang sangat sukar dipisahkan dan selalu ada dan bekerja. Tanpa diketahui dan tiada henti-hentinya (sifat jahat itu) memberi (manusia) anugrah yang berupa rasa puas dan penasaran. (sifat jahat itu) tak dapat dikalahkan dengan gampang, walaupun diusahakan benar-benar, karena tidak mempunyai wujud fisik.

2. Pujarcana sahana widhikriyacjrayakenanta pinaka syarana. Mwan dhyana saha japa samadhi yoga panupaya sakala regepen. Tan byakta tika karananih tumemwa wekasin parama kasugatin. Yan tan wruh i patitisi sandhinin samaya nisphala sahananika.

Sebagai syarat (mengalahkan kejahatan) pergunakanlah doa, sembahyang dan segala sesuatu hal menurut ketentuan-ketentuannya (upacara suci sesuai ajaran Shiwa Buddha). Juga pemusatan pikiran (meditasi), Japa, Tapa dan lain-lain harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Tetapi semuanya itu belum tentu menjadi sebab diketemukannya ‘Puncak Kesempurnaan Yang Utama’, bila (manusia) tak mampu menguak kesejatian dirinya, maka segala sesuatu tiada berguna.

3. Apan sahana-hananikan prayoga pinakesti sira juga tedun. Ndah mogha mawaka rikan angego smreti tekasuna wara, kahidep. Tan wruh yadi sira hana rin swabhawa tinelen milu manelenaken. Nir sadhana sira maka sadhanen hayu sadanilib in anen’anen.

Karena tujuan segala ‘yoga’ itu ialah (agar) Dia turun (dari kahyangan), (kata mereka) dengan tiba-tiba Dia akan datang untuk memberi anugrah dan orang yang sedang bersemadi itu, tanpa mengetahuinya, bersatu badan dengan yang menjadi pusat tujuan semadi itu (Tuhan), dan Dia ikut bersemadi. Sesungguhnya Dia itu tidak memerlukan syarat-syarat (Nirsadhana agar supaya Dia bisa turun dari kahyangan), tetapi sesunggguhnya Dia-lah yang menjadi syarat menuju ke kebahagiaan dan Dia tersembunyi di dalam semedi itu sendiri.

4. Lwir bahni wekasin atisuksma tan sipi haneh kayu-kayu sahana. Ndah yan tutuhana wadunen pajun kapana yann umijila n anala. Nhin yan wruhanikanan anuswaken lalu sawega lekasanikahen. Byaktotpadanikan apuy dumagdhakena wreksa pinenuhan ika.

Bagaikan api yang tersembunyi di dalam segala kayu tidak terbandingkan, walaupun dibelah dengan kapak ataupun palu, mustahil api akan keluar. Tetapi bila (orang) tahu menggosokkan dua potong kayu dengan cepat dan kuat, tentu api akan keluar dan membakar kayu itu sendiri sampai habis.



Pupuh VI

1. Iwa mankaneki gati san hyan umibeki samuhanin dadi. Ya mawak pawak ya ginawe gumaway ikan acintya niskala. Sasinadhyanin tapa masadhya rin angulahaken giwarcana. Hana tan tumut tuwi tumut ta ya raket i sapolahin sarat.


Seperti itulah halnya Dia, Dewa (segala Dewa) yang ada di dalam seluruh makhluk dan yang memenuhi segala makhluk. Dia Yang Meliputi dan sekaligus Diliputi. Dia-lah yang diciptakan ini semua, dan Dia juga yang menciptakan, Yang Tak Dapat Dicapai dengan pikiran dan segenap indra. Yang menjadi tujuan semua pertapa yang menyembah-Nya. Dia hadir dan dekat dengan segala makhluk, ikut di dalam perbuatan-perbuatannya makhluk, tetapi juga tidak berbuat.

2. Rin apan kawastwan i siran grahana tubu widehalaksana. Ya matannya durgama kapangihanika tekapin mamet hayu. Humenen nda tan wenan atarka ri karegepanin samankana. Katunan tutur hidepikan lebar abalika wreddhyanin lupa.

Bagaimanakahkah (manusia) dapat menggambarkan-Nya dan meraba-Nya, karena Dia sungguh-sungguh bersifat ‘Tak bermateri’? Itulah sebabnya Dia sangat sukar ditemukan oleh orang yang berniat mencapai Kebahagiaan. Hanya pada waktu manusia mampu men-‘diam’-kan dirinya (dari segala pikirannya liarnya) dan disaat manusia ‘tak merasa menemukan-nya’, maka akan hilang lenyap rasa dan pikiran kembali kepada ‘Ke-alpa-an Yang Sempurna’, (disitulah baru dapat bertemu dengan Dia).



Pupuh VII

1. Asih ulahanikan wwan tan byakta nya kinatayan. Padanira hana ri nika lwir maya taya tinuduh. Ya karananira san wruh nir tan sadhya telenana. Smretinira juga langen nimnajnyana syuci sada.


Segala aktifitas manusia tidak akan menjadi jika tanpa Dia. Kehadiran-Nya hanya dapat diumpamakan seperti Maya (illusi), tak dapat ditunjukkan. Oleh karena itu manusia yang telah tahu, hilang keinginannya yang menggebu-gebu memusatkan pikirannya (untuk mencapai-Nya). Cukup hanya dengan Japa yang terus menerus saja serta dengan batin yang hening (itulah jalan bertemu dengan-Nya).

2. Ri henenikanan ambek tibralit mahenin aho. Lenit aticaya syunya jnyananasyraya wekasan. Swayen umibeki tan ring rat mwan deha tuduhana. Ri panawakira san hyan tatwadhyatmika katemu.

Manakala batin telah hening, menjadi sangat halus, sangat suci dan cemerlang, maka hilanglah segala personalitasnya dan menjadi kosong belaka. Akhirnya Kesadaran Sejati timbul, serta merta meliputi seluruh dunia. Pada waktu Sang Hyang Tatwa (Kenyataan/Kesadaran Tertinggi) mennyatu dengan seseorang, maka bertemulah dia dengan Roh yang Tertinggi (Adyatmika = Paramatma).

3. Ndan i huwusira manka san sampun kretasamaya. Tri-mala malilan in cittande syuddha tanu sada. Lara pati putekin twas ndin sandehan ika kabeh. Geseni manahirapan rudratma sakala wibhuh.

Dan setelah demikian itu, Trimala (Tiga kekotoran) di dalam hati dari ‘manusia yang sudah bertemu’ tersebut menjadi bersih dan membuat tubuhnya suci selalu.
Sakit, mati, dukacita, tak dapat menakutkan dirinya lagi. (Semuanya) telah terbakar di dalam batinnya, karena ia telah menjadi Dewa Rudra (Tuhan) Yang Maha Kuasa diseluruh dunia.



Pupuh VIII

1. Mankana rakwa san telas anemwaken pada wigesa guhyasamaya. Tan manawastha tan hidep amicra suksma ri bhatara satmika lana. Linga manahniran sthiti manekadega madeg in syiwalaya sada. Gaktiniraprameya hibeking jagat juga maweh sukapratihata.


Demikianlah ciri-ciri manusia yang telah menggapai Kesempurnaan Utama. Senantiasa sttabil dan tenang karena telah bersatu badan dan jiwa dengan Bhatara (Tuhan). Hatinya teguh bagaikan lingga yang berdiri kokoh dengan tetap di kerajaan Dewa Siwa. Kesaktiannya tak ada batasnya , meliputi seluruh dunia serta membawa kebahagiaan yang kekal.

2. Na lwiri san tepet manemu yoga sandhinin acintya sasmreti sada. Tan swasyarira kewala wiguddha nirmala tekaparatmaka kabeh. Swartha parartha sadhyanira tan wurun mudani harsanin parahita. Yeka panihnanin sakalamurti san hyan apagoh umandel i sira.

Demikianlah manusia yang sepenuhnya telah mencapai persatuan atau pertemuan dengan Dewa Acintya (Dewa Yang Tak Terpikirkan/Tuhan) melalui Japa yang teratur. Tidak hanya dirinya sendiri yang suci, bahkan orang-orang lain pun akan ikut menjadi suci karena bantuannya. Dia berpikir, bahwa kepentingan orang lain adalah kepentingannya juga. Sudah barang tentu akan membawa kebahagiaan bagi manusia lain seperti halnya hujan. Itulah tanda, bahwa Tuhan telah ‘mengejawantah’ dan ‘menyatu’ secara kekal dengannya.

3. Len hana nista madhya lawan uttaman pada kininkinin hayunika. Mwan karananya mentasa saken aweci musira n sukadhikapada. Yan mulatin parahemu suduhkitalara dahat hidepnira tumon. Ri wruhi tanpa bhedanira mulanin bhuwana jati tunggal ikahen.

Dalam pandangannya tak ada lagi manusia nista, manusia madya (pertengahan antara nista dan utama) dan manusia uttama, semua dia kasihi. Bahkan sampai jalan kelepasan mereka dari neraka, juga diperhatikannya. Manakala melihat orang lain mendapat dukacita, hatinya sangatlah kasihan padanya. Karena ia tahu, bahwa pada dasarnya semua manusia itu tak ada beda (satu kesatuan), semua itu sama.



Pupuh IX

1. Tan manka janaloka buddhi winanunya tan amuhara treptinin hidep. Ndan bwat dwesa gatinya rin paraguna, swaguna juga lewih wuwusnika. Gonnih dosa hinotakenya ri syarira kinekesika tan kanisycayan. Anhin yan hana dosa-matranikanan parajana winulik winarnana.

Tapi tidak seperti itu bagi manusia biasa. Apa yang dipikirkan dan diperbuat, hanyalah demi memuaskan diri sendiri. Ia sangat tidak senang terhadap kemampuan orang lain, dan berkata, bahwa hanya kemampuannyalah yang lebih. Segala kesalahannya yang besar disembunyikan dan disimpannya, sehingga jangan sampai kelihatan. Tetapi bila ada kesalahan orang lain, walaupun sangat kecil, dicari-carinya dan dibuka-buka.

2. Lyan tekan hati tustacitta ri sedehnika n umulati duhkanin waneh. Irsyen wan tumemu n sukanalah ulah karananira manemwa duhkita. Nindyeri sadhu mahardhike manah anindya winalin agawe kaduskretan. Gonnin krodha madeg yadin calana, henti sumukitanikan hinastawa.

Hatinya sangat senang bila melihat orang lain dalam kesusahan. Ia iri hati terhadap orang yang mendapat kesenangan dan bahkan berusaha untuk menjerumuskannya. Orang-orang yang sangat baik dan yang sangat berbudi difitnahnya. Ia sangat marah bila dicela, senang sekali bila disanjung.

3. Tan tunggal mara sampaying nara, wimurka, tumaya-taya rin huwus mahan. Nirsandeha cumodya solahira san jenek anulahaken kasatwikan. Yeku bhranta wimudha-janma tang amet hyang aputeran aneka laksana. Lecyanyan turunin wruh in gati nahan pangucapira manalpika Iwero.

Dengan berbagai cara ia menghina orang, dengan kedengkiannya ia merendahkan orang yang berjasa besar. Tiada sungkan lagi ia mengecam segala perbuatan orang yang melaksanakan perbuatan-perbuatan baik. Semua manusia yang berusaha dengan berbagai jalan dan pergi ke mana-mana untuk mencari Tuhan dengan alasan belum mengerti kebenaran-Nya adalah orang yang tolol dan bingung. Demikian katanya menghina yang lain dan merasa dirinya lebih benar.

4. Ndah mankambekikan syatagelem apet rin analahi n ulah nya nityasa. Lobhe dhih umaku wisyesa tinemunya ri turunin acihna rin praja. Ndan sabdanya juga lepas lwiraniki n kalilinan atikadbhutapatuk. Anhin tan kawenan miber sthiti hanen kuwunika ri wipaksanin tanu.

Demikianlah pikiran orang yang jahat suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Dengan tamak dia mengaku dirinya hebat, padahal belum ada bukti yang bisa diperlihatkannya. Kata-katanya sajalah yang hebat, seperti burung enggang dengan patuknya yang sangat besar, ia sendiri tak dapat terbang, ia diam saja di dalam sarangnya, karena kemampuannya tidak sepadan (dengan kata-katanya).

5. Nistanyan pwa ya mankana n gati taman surud anekani sestinin hati. Tan seneh yadin asyana h para tekapnikan awedi kasoran in naya. Wetnin hyunya pujin stutin ya linika bhuwana lepasa denku tan wurun. Simbantenn iki yan makarya ya jugan winawanika ri tambragomuka.

Beginilah akhir bagi manusia yang tidak henti-hentinya memperturutkan segala kehendak hatinya. Ia tak perduli ditertawakan orang lain, karena takut dikatakan kalah bijaksana.
Karena ingin dipuji dan disanjung, ia berkata, Saya yang akan menyelamatkan dunia. Bukannya berhasil, malahan ia terbawa masuk ke neraka.



Pupuh X

1. Tan mankambek munindraticaya nipuna rin sarwa tatwopadesya. Tan sahken lobha yar sorakeni sahananih loka kapwapranamya. Sanka ry asihnira n hetunika pada musap joh lananghyan masewa. Warsajnyanopacantanirami manahikan rat dumeh harsacitta.

Tidaklah demikian hati seorang pendeta besar, yang tinggi ilmunya dalam segala ilmu Kesejatian. Bukan karena loba hatinya, kalau ia menempatkan dirinya lebih tinggi dari orang-orang lain yang menghormatinya. Karena kasihnya maka mereka menghormatinya. Kebijaksanaannya dan kesabarannya bagaikan hujan yang menyirami hati semua orang dan membawa kebahagiaan bagi mereka.

2. Tekwan tan sanka rin pintanika ri datengin sarwa ratnopakara. Wetnyatyanten mahasiddhinira kumawasyen rat taya n langhaniya.

Lagipula bukan karena meminta, sehingga segala permata dan lainnya datang kepadanya. Tetapi karena kesempurnaan (ilmunya) yang mengusai dunia, sehingga tak ada yang membantahnya.

3. Apan prajna suluh san yatiwara masawan bahni candrarka dipta. Rin wahyadhyatmika n anga rinadinanira n syatru yanken peteng sok. Dhwasteka nan tamahnin hati sahananikan papa len klesya syirna. Lila-lilan panicchen bhuwana tekapikan jnyana syaktyaniwarya.

Karena ilmunya yang tinggi sang pendeta menjadi suluh laksana api yang bercahaya, bagai matahari dan bulan. Dengan kebesaran jiwa yang keluar dari dirinya, dikalahkannya musuh yang bagai kegelap gulitan. Hilanglah segala keangkaraan yang berdosa dan musnahlah kecemaran mereka. Dengan sangat baik dibuatnya dunia menjadi bahagia berkat kemampuan ilmunya yang luar biasa.



Pupuh XI

1. Samanka tinkahnira san huwus mahan. Mahojjwalen jnyana lumon prabhaswara. Prabhaswaren rat supenuh nda tan katon. Katon tikan wastu susuksma denira.

Demikianlah tingkah laku orang yang telah mencapai kebesaran (jiwa). Ilmunya bagaikan api berkobar-kobar, bercahaya terang benderang. Sangat cemerlang di dunia, tetapi tetap tidak nampak nyata dalam mata lahir, hanya dapat dirasakan sebagai‘ sesuatu yang sangat halus’.

2. Nirantararthatwa mapinda tan luput. Luput ring angga mwan in anda yan pinet. Pinet maner in hati muksa tan hilan. Hilahnikamicra mawor nda tan pawor.

Terus menerus ‘Sesuatu Yang Sejati’ tersebut mengalir (kepadanya). Tetapi bila dicari didalam batin, walaupun tak ketemu Dia tak hilang. Dia tidak dapat diketemukan, karena walaupun 'menyatu' tetap juga 'tidak menyatu'.

3. Paworniken atma makeka rin tutur. Tutur sadakala sunispreheng sarat. Sarat hilah mwan ri hidep maluy malit. Malit saken litnin acintyaniskala.

Penyatuan Hyang Atma ada di dalam batin. Batin itu seolah terpisah dari dunia, di dalam batin sangat kecil. Kecil karena kehalusan yang tak dapat dicapai dengan pikiran dan pancaindra.

4. Kalah tikan sadripu syirna denira. Niragraha citta wisyuddha nirmala. Malanaput tanpa napel kawes humur. Humur dumohi wisayanya nityaca.

Telah mampu Sadripu (Enam kegelapan batin) dihancurkannya, hatinya suci murni. Kotoran yang meliputi tak dapat melekat dan enyah jauh-jauh serta lenyap untuk selama-lamanya.

5. Salah-kena n lokika mogha tan tinut. Tinut rin ambeknira tan grahomeneng. Meneng mido lalu wicintya tan lebur. Lebur nirakara niraksaratmaka.

Ia tak terikat kepada kebaikan dan keburukan, (tapi terus) batinnya senantiasa aktif memperhatikan segala perubahan dalam kediaman yang jernih. Diam sediam-diamnya, tetapi tidak lenyap. (Segala perbedaan) lebur, hilang bentuk, hilang rupa.

6. Makantya tekana ginuhya rin hati. Atita rin kirya kabeh ya nisphala. Phalanya tan matra kasihhiten manah. Manah sumimpen ri huwusnya nirnaya.

Segala sesuatu larut tersimpan di dalam batinnya. Segala tingkah lakunya telah bebas dari karmaphala. Segala buah karma sekesil apapun lebur di dalam batin, dan batinnya telah stabil tanpa perlu dipaksakan lagi.



Pupuh XII

1. Ya samankana rakwa lekasira san uttama diwyayati. Ginelarnira san guru pananumaten kami mudha dahat. Wiphalan kadi dipa sumeleh atidipta tibeh jaladni. Temahanya padem kakelem i petehih hati lot wipatha.

Demikianlah tingkah laku orang yang utama yang telah mencapai badan Dewata. Diuraikan oleh hamba yang sangat dungu dengan izin guru hamba. Tapi tak ada gunanya, karena seperti api yang bercahaya-cahaya jatuh di lautan. Akhirnya padam tengelam di kekelaman hati yang selalu menuju persimpangan jalan.



Pupuh XIII

1. Iwirnii wadhaka syaktinin wisaya syatru jaladhi sama kirna tar surud. Rwabhyandurbalani swacitta mawetu n karaketan i temahnya rin sarat. Na hetunkwa n umura karwa lepihan teher akemula kresna jirnaka. Wetnin tan sipi duhka mandagagunen bapa ri panatagin purakreti.

Kekuatan Wisaya (obyek kenikmatan duniawi) sangatlah menganggu laksana musuh dan laksana lautan yang tengah pasang. Air pasang itu menjerumuskan hatiku ke dalam kesulitan, membuat hatiku terpaut kepada keduniawian. Itulah sebabnya hamba lari membawa kitab ini lalu berselubung kain hitam yang telah compang-camping, karena tak terhingga kesedihan hamba disebabkan kurang kepandaian dan ketabahan hati untuk melaksanakan perintah bapa hamba di dalam istana.

2. Nahan hinanikan palamban atidurlikita wigati tar wenang linen, Ndan sin syabda riniptaken teka n ujar sarinapini winorku ring rasa. Bhrantajnyananikin pitanuluyi putra sawuwusika tulya bhasmaran. Tustenwan yadin asyana n para sadenya syumasyada linampuning hulun.

Inilah akhir Lambang (Perumpamaan) yang tertulis dengan sangat buruknya dan tak ada gunanya untuk dipercakapkan. Sembarang kata telah tertulis karena semua ungkapan-ungkapan yang tercatat telah tercampur perasaan, yang timbul dari kesedihan. Bapa kemudian memberi penerangan dengan kasihnya. Hamba akan tetap bergembira walau ditertawakan orang, biar pun dicela hamaba akan menerima

3. Tekwan tan wihikan gatinku ri rusit-rusitin akawi punya kirtiman. Nhih sinwinutusin yayah medarena katiwasanira nitya kasymala. Hetunkwanis anuksma mogha maparab wedi katenera cihnanin hulun. Eran ngwan sthitihen pradega juga tan maluya wekasanin nirarthaka.

Lagi pula hamba memang tidak tahu akan segala seluk-beluk membuat syair seperti para ahli (Pujangga). Tapi hamba diperintah dengan keras oleh bapa untuk menguraikan kegagalan-kegagalan orang yang selalu berdosa. Oleh karena itu hamba pergi ketempat yang sunyi dan mempergunakan nama samaran, takut akan ketahuan nama hamba yang benar. Hamba malu dan akan tetap tinggal di desa dan tak akan kembali sampai akhir hidupku.


Iti nirarthaprakreta samapta telas rincanan dening puputut tan wrin deya.

Ung Ang Saraswatyai Namah.

Siddhir astu. Sampurna pwa yeng kancana. Durgha Dewi tan len ika sthananya ring Padmambara.


Selesai sudah nirarthaprakreta…………………………,

Ung Ang Terpujilah Dewi Saraswati

Siddhir astu, semoga sempurna bagai mutiara, Dewi Durgha tiada lain tahtanya di Padmambara

(Durgha : 1, Len : 2, Sthana: 8, Padma : 8 ~ ditulis oleh Mpu Prapancha, yang bernama asli Dang Acharya Nadendra pada tahun 1288 Saka atau 1366 Masehi. Selesai sesudah menulis Kakawin Nagarakretagama)


Kakawin ini ditemukan satu paket dengan Kakawin Nagarakretagama yang terkenal itu dengan Sugataparwa Warnnana pada tahun 1894 di Puri CAKRANEGARA, LOMBOK oleh J.L.A. Brandes. Ketiganya ~Nagarakretagama, Sugataparwa Warnnana dan Nirartha Prakretha adalah karya Dang Acharya Nadendra, pejabat Darmmadhyaksa Ring Kasogatan (Pembesar Agama Buddha) di Majapahit disaat jaman Prabhu Hayam Wuruk berkuasa dimana Majapahit tengah mencapai puncak kegemilangannya. Dang Acharya Nadendra mengambil nama samaran Mpu Prapancha. Dan nama ini yang dikenal sampai sekarang.
http://bn-in.facebook.com/topic.php?uid=20369925865&topic=15769