TATA PEMERINTAHAN KERAJAAN MAJAPAHIT
Dari Pararaton dan Nāgarakṛtāgama dapat diketahui bahwa sistem pemerintahan dan politik Majapahit sudah teratur dengan baik dan berjalan lancar. Konsep politik ini menyatu dengan konsep jagat raya, yang melahirkan pandangan cosmoginos.
Majapahit sebagai sebuah kerajaan mencerminkan doktrin tersebut, kekuasaan yang bersipat teotorial dan disentralisasi dengan birokrasi yang terinci.
Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa tertinggi, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan.
Ada pun wilayah tinggal para dewa lokapala terletak di empat penjuru mata angin. Untuk terlaksananya kekuasaan, raja dibantu oleh sejumlah pembantu, yang tidak lain penjabat-penjabat birokrasi kerajaan.
Dalam susunan birokrasi demikian, semakin dekat hubungan seseorang dengan raja maka akan semakin tinggi pula kedudukannya dalam birokrasi kerajaan.
Nāgarakṛtāgama pupuh 89 : 2 memberitakan bahwa hubungan negara dengan desa begitu rapat seperti singa dengan hutan. Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan.
apan ikang pura len swawisaya kadi singha lawan sahana
yan rusaka thani milwa ng akurang upajiwa tikang nagara
yan taya bhrtya katon waya nika paranusa tekangreweka
hetu nikan pada raksan apageha lakih phala ning mawuwus
[Negara dan desa bersambung rapat seperti singa dan hutan,
Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan,
Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita,
Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!]
Struktur birokrasi dalam hierarki Majapahit dari tingkat pusat ke jabatan yang lebih rendah adalah:
1.     raja;
2.     yuwaraja/kumaraja (raja muda);
3.     rakryan mahamatri katrini;
4.     rakryan mantri ri pakirakiran;
5.     dharmadhyaksa.
1. Raja.
Raja adalah pemegang otoritas tertinggi, baik dalam kebijakan politik mau pun istana lainnya. Kedudukannya diperoleh dari hak waris yang telah digariskan secara turun-temurun.
Di samping raja, ada kelompok yang disebut sebagai Bhatara Sapta Prabu semacam Dewan Pertimbangan Agung. Dalam Nāgarakṛtāgama (Pupuh 73:2), dewan ini disebut pahom narendra yang beranggotakan sembilan orang; sedangkan dalam Kidung Sundayana disebut Sapta Raja.
kunang i pahom narendra haji rama sang prabhu kalih sireki pinupul
ibu haji sang rwa tansah athawanuja nrepati karwa sang priya tumut
gumunita sang wruheng gumunadosa ning bala gumantyane sang apatih
linawelawo ndatan hana katrpti ning twas mangun wiyoga sumusuk
Pada masa Raja Dyah Hayam Wuruk, mereka yang menduduki jabatan tersebut di antaranya:
1. Raja Hayam Wuruk;
2. Kertawardhana (Ayah Sang Raja);
3. Tribhuwana Tunggadewi (Ibu Suri);
4. Rajadewi Maharajasa (Bibi Sang Raja);
5. Wijayarajasa (Paman Sang Raja);
6. Rajasaduhiteswari (Adik Sang Raja);
7. Rajasaduhitendudewi (Adik Sepupu Sang Raja);
8. Singawardhana (Suami Rajasaduhiteswari);
9. Rajasawardhana (R. Larang, Suami Rajasaduhitendudewi).
2. Yuwaraja/Rajakumara/Kumaraja (Raja Muda)
Jabatan ini biasanya diduduki oleh putra mahkota. Dari berbagai prasasti danNāgarakṛtāgama diketahui bahwa para putra mahkota sebelum diangkat menjadi raja pada umumnya diberi kedudukan sebagai raja muda. Misalnya, Jayanagara sebelum menjadi raja, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Daha.
Hayam Wuruk sebelum naik takhta menjadi raja Majapahit, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Kabalan. Jayanegara dinobatkan sebagai raja muda di Kadiri tahun 1295.
Pengangkatan tersebut dimaksud sebagai pengakuan bahwa raja yang sedang memerintah akan menyerahkan hak atas takhta kerajaan kepada orang yang diangkat sebagai raja muda, jika yang bersangkutan telah mencapai usia dewasa atau jika raja yang sedang memerintah mangkat.
Raja muda Majapahit yang pertama ialah Jayanegara. Raja muda yang kedua adalah Dyah Hayam Wuruk yang dinobatkan di Kahuripan (Jiwana). Pengangkatan raja muda tidak bergantung pada tingkatan usia. Baik raja Jayanegara mau pun Hayam Wuruk masih kanak-kanak, waktu diangkat menjadi raja muda, sementara pemerintahan di negara bawahan yang bersangkutan dijalankan oleh patih dan menteri.
3. Rakryan Mahamatri Katrini
Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Kuno, yakni pada masa Rakai Kayuwangi, jabatan ini tetap ada hingga masa Majapahit.
Penjabat-penjabat ini terdiri dari tiga orang yakni:
rakryan mahamantri i hino,
rakryan mahamantri i halu, dan
rakryan mahamantri i sirikan.
Ketiga penjabat ini memunyai kedudukan penting setelah raja, dan mereka menerima perintah langsung dari raja. Namun, mereka bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah raja; titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya.
Di antara ketiga penjabat itu, rakryan mahamantri i hino-lah yang terpenting dan tertinggi. Ia memunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti).
Oleh sebab itu, banyak para ahli yang menduga jabatan in dipegang oleh putra mahkota.
4. Rakryan Mantri ri Pakirakiran
Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah. Biasanya terdiri dari lima orang rakryan (para tanda rakryan), yakni:
1. Rakryan Mahapatih atau Patih Amangkubhumi;
2.
 Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan);
3.
 Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan);
4.
 Rakryan Rangga (Pembantu Panglima);
5.
 Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara).
Para tanda rakryan ini dalam susunan pemerintahan Majapahit sering disebut Sang Panca ring Wilwatikta atau Mantri Amancanagara.
Dalam berbagai sumber, urutan jabatan tidak selalu sama. Namun, jabatan rakryan mahapatih (patih amangkubhumi) adalah yang tertinggi, yakni semacam perdana menteri (mantri mukya).
Untuk membedakan dengan jabatan patih yang ada di Negara daerah (profinsi) yang biasanya disebut mapatih atau rakryan mapatih, dalam Nāgarakṛtāgama jabatan patih amangkubhumi dikenal dengan sebutan apatih ring tiktawilwadika.
Gajah Mada sebagai patih adalah Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mapatih Gajah Mada
Berikut Nama Nama Patih Majapahit menurut Kitab Pararaton :
1. Mahapatih Nambi 1294 – 13162.
2. Mahapatih Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 – 13233.
3. Mahapatih Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 – 13344.
4. Mahapatih Gajah Mada 1334 – 1364
5. Mahapatih Gajah Enggon 1367 – 1394.
6. Mahapatih Gajah Manguri 1394 – 13987.
7. Mahapatih Gajah Lembana 1398 – 14108.
8. Mahapatih Tuan Tanaka 1410 – 1430
5. Dharmadhyaksa
Dharmadhyaksa adalah penjabat tinggi yang bertugas secara yuridis mengenai masalah-masalah keagamaan. Jabatan ini diduduki oleh dua orang, yaitu:
1. Dharmadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa,
2. Dharmadhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha.
Masing-masing dharmadhyaksa ini dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut dharmaupapatti atau upapatti, yang jumlahnya amat banyak. Pada masa Hayam Wuruk hanya dikenal tujuh upapatti, yakni: sang upapatti sapta:
i. sang pamget i tirwan,
ii.
 kandhamuni,
iii.
 manghuri,
iv.
 pamwatan,
v.
 jhambi,
vi.
 kandangan rare, dan
vii.
 kandangan atuha.
Di antara upapatti itu ada pula yang menjabat urusan sekte-sekte tertentu, misalnya:bhairawapaksa, saurapaksa, siddahantapaksa, sang wadidesnawa, sakara, danwahyaka.
6. Paduka Bhatara (Raja Daerah)
Dalam pembentukannya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan Singasari, terdiri atas beberapa kawasan tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa. Daerah ini diperintah oleh uparaja yang disebut Paduka Bhattara yang bergelar Bhre.
Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan mereka berada di bawah raja Majapahit sebagai raja-raja daerah yang masing-masing memerintah sebuah negara daerah.
Biasanya mereka adalah saudara-saudara raja atau kerabat dekat.
Tugas mereka adalah untuk mengelola kerajaan mereka, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola pertahanan di perbatasan daerah yang mereka pimpin.
Selama masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 s.d. 1389) ada 12 wilayah di Majapahit, yang dikelola oleh kerabat dekat raja (Lihat pada waosan berikutnya tentang Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit).
Tanda
1. Rakryan;
2.
 Arya;
3.
 Dang Akarya.
Di Majapahit para pegawai pemerintahan disebut tanda, masing-masing diberi sebutan atau gelar sesuai dengan jabatan yang dipangkunya. Dalam hal kepegawaian, sebutannya mengalami perubahan dari masanya; gelar yang sama Kerajaan Mataram belum tentu bermakna yang sama dengan masa Majapahit, misalnya gelar rake atau rakai dan mangkubumi.
Ditinjau dari gelar-sebutannnya seperti yang kedapatan pada pelbagai piagam, tanda ini dapat digolongkan yakni: golongan rakryan atau rakean, golongan arya, dan golongan dang acarya.
1. Rakryan
Rakryan disebut juga Rakean, beberapa piagam, di antaranya Piagam Surabaya, menggunakan gelar rake yang maknanya sama dengan rakryan. Jumlah jabatan yang disertai gelar rakryan terbatas sekali. Para tanda yang berhak menggunakan gelar rakryan atau rake seperti berikut:
1. Mahamantri katrini, yaitu mahamantri i hino, mahamantri i sirikan, dan mahamantri i halu. Misalnya, pada Piagam Kudadu tertulis:
a. rakryan mantri i hino adalah Dyah Pamasi;
b. rakryan mantri i sirikan adalah Dyah Palisir;
c. rakryan mantri i halu adalah Dyah Singlar.
2. Pasangguhan, sama dengan hulubalang. Pada zaman Majapahit hanya ada dua jabatan pasangguhan, yakni: pranaraja dan nayapati.
Misalnya, pada Piagam Kudadu, tarikh 1294:
  • mapasanggahan sang pranaraja, Rakryan mantra Mpu Sina (nama ini ditemukan juga dalam Piagam Penanggungan)
  • mapasanggahan sang nayapati, Mpu Lunggah.
Pada zaman awal Majapahit, ada empat orang pasangguhan, yakni dua orang yang disebutkan di atas ditambah rakryan mantri dwipantara Sang Arya Adikara dan pasangguhan Sang Arya Wiraraja.
3. Sang Panca Wilwatikta, yakni lima orang pembesar yang diserahi urusan pemerintah Majapahit. Mereka itu rangga dan tumenggung.
Piagam Penanggungan menyebut:
a. Rakryan Apatih adalah Pu Tambi,
b. Rakryan Demung adalah Pu Rentang,
c. Rakryan Kanuhunan adalah Pu Elam,
d. Rakryan Rangga adalah Pu Sasi, dan
e. Rakryan Tumenggung adalah Pu Wahana.
4. Juru pangalasan, yakni pembesar daerah mancanegara. Piagam Penanggungan menyebutkan raja Majapahit sebagai Rakryan Juru Kertarajasa Jayawardana atau Rakryan Mantri Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana. Piagam Bendasari menyebut Rake Juru Pangalasan Pu Petul.
5. Para patih negara-negara bawahan.
Pada Piagam Sidateka tarikh 1323 disebutkan:
a. Rakryan Patih Kapulungan: Pu dedes;
b. Rakryan Patih Matahun: Pu Tanu.
Piagam Penanggungan, tarikh 1296, menyebut Sang Panca ri Daha dengan gelar rakryan, karena Daha dianggap sejajar dengan Majapahit.
2. Arya
Para tanda arya mempunyai kedudukan lebih rendah dari rakryan, dan disebut pada piagam-piagam sesudah Sang Panca Wilwatikta. Ada berbagai jabatan yang disertai gelar arya.
Piagam Sidakerta memberikan gambaran yang agak lengkap, yakni:
1. Sang Arya Patipati: Pu Kapat;
2. Sang Arya Wangsaprana: Pu Menur;
3. Sang Arya Jayapati: Pu Pamor;
4. Sang Arya Rajaparakrama: Mapanji Elam;
5. Sang Arya Suradhiraja: Pu Kapasa;
6. Sang Arya Rajadhikara: Pu Tanga;
7. Sang Arya Dewaraja: Pu Aditya;
8. Sang Arya Dhiraraja: Pu Narayana.
Karena jasa-jasanya, seorang arya dapat dinaikkan menjadi wreddhamantri atau mantri sepuh. Baik Sang Arya Dewaraja Pu Aditya maupun Sang Arya Dhiraraja Pu Narayana mempunyai kedudukan wreddhamantri dalam Piagam Surabaya.
3. Dang Acarya
Sebutan ini khusus diperuntukkan bagi para pendeta Siwa dan Buddha yang diangkat sebagai dharmadhyaksa (hakim tinggi) atau upapatti (pembantu dharmadhyaksa kesiwaan dan dharmadhyaksa kebuddhaan).
Jumlah upapatti semula hanya berjumlah lima, semuanya dalam kasaiwan (kesiwaan); kemudian ditambah dua upapatti kasogatan (kebuddhaan) di kandangan tuha dan kandangan rahe. Dengan demikian, semuannya berjumlah tujuh dalam pemerintahan Dyah Hayam Wuruk.
Pembesar-pembesar pengadilan ini biasanya disebut sesudah para arya. Contohnya, susunan pengadilan seperti yang dipaparkan dalam Piagam Trawulan, tarikh 1358, sebagai berikut.
1. Dharmadhyaksa Kasaiwan: Dang Acarya Dharmaraja;
2. Dharmadhyakasa Kasogatan: Dang Acarya Nadendra;
3. Pamegat Tirwan: Dang Acarya Siwanata;
4. Pamegat Manghuri: Dang Acarya Agreswara;
5. Pamegat Kandamuni: Dang Acarya Jayasmana;
6. Pamegat Pamwatan: Dang Acarya Widyanata;
7. Pamegat Jambi: Dang Acarya Siwadipa;
8. Pamegat Kandangan Tuha: Dang Acarya Srigna;
9. Pamegat Kandangan Rare: Dang Acarya Matajnyana.
Tambahan dua orang upapatti yang biasa disebut (sang) pamegat dilakukan sesudah tahun 1329, yakni pada zaman pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, karena pada Piagam Berumbung, pamegat kandangan tuha dan rare belum disebut.
Penyebutan yang pertama didapati yang pertama terdapat pada Piagam Nglawang, tidak bertarikh.
Tata Susunan Pemerintahan Pusat-Daerah
Hirarki dalam pengklasifikasian wilayah di kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut:
1.     Bhumi: pusat kerajaan, diperintah oleh Maharaja.
2.     Nagara: setingkat propinsi, diperintah oleh rajya (gubernur), atau natha (tuan), atau bhre (pangeran atau bangsawan keluarga dekat raja), bhatara, wadhanaatau adipati.
3.     Watek: setingkat kabupaten, dipimpin oleh wiyasa atau tumengung.
4.     Kuwu: setingkat lebih tinggi di atas kecamatan atau kademangan dipimpin oleh lurah atau demang.
5.     Wanua: setingkat desa, dipimpin oleh thani atau petinggi.
6.     Kabuyutan: setingkat lingkungan, padukuhan, dusun kecil atau tempat sakral, dipimpin oleh seorang buyut atau rama atau kepala dukuh.
Negara bawahan maupun daerah, mengambil pola pemerintahan pusat. Raja dan juru pangalasan adalah pembesar yang bertanggung jawab; sementara pemerintahannya dikuasakan kepada patih, sama dengan pemerintah pusat. Meski raja Majapahit adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pemerintahan, tetapi pemerintahannya berada di tangan patih amangkubumi (patih seluruh negara).
Itulah sebabnya menurut Nāgarakṛtāgama pupuh 10, para patih, jika datang ke Majapahit, mereka mengunjungi gedung kepatihan amangkubumi yang dipimpin oleh Gajah Mada.
Nāgarakṛtāgama (Pupuh 10: 1, 2 dan 3):
1.
Warnnan warnna ni sang manangkil irikang witana satata
Mantri wrddha pararyya len para pasangguhan sakaparek
Mwang sang panca ri wilwatikta mapageh demung kanuruhan
Tansah rangga tumenggung uttama ni sang marek woki penuh.
(Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanuruhan, rangga, Tumenggung, lima priyayi agung yang dekat dengan istana.)
2.
Kwehning wesa puri kamantryan ing amatya ring sanagara
Don ing bhasa parapatih parademung sakala n apupul
Anghing sang juru ning watek pangalasan mahingan apageh
Panca kweh nira mantri anindita rumaksa karyya ri dalem.
(Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan, Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh, Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh negara, Lima menteri utama, yang mengawal urusan negara.)
3.
Ndan sang ksatriya len bhujangga rsi wipra yapwan umarek
Ngkane heb ning asoka munggwi hiring ing witana mangadeg
Dharmadhyaksa kalih lawan sang upapatti saptadulur
Sang tuhwaryya lekas niran pangaran aryya yukti satirun.
(Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap, Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana, Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya, Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.)
Ada pun masalah administrasi pemerintahan Majapahit dikuasakan kepada lima pembesar yang disebut Sang Panca ri Wilwatika. Mereka adalah: Patih Amangkubumi, Demung, Kanuruhan, Rangga, dan Tumenggung. Mereka inilah yang banyak dikunjungi oleh para pembesar negara bawahan dan negara daerah untuk urusan pemerintahan. Apa yang direncanakan di pusat, dilaksanakan di daerah oleh pembesar bersangkutan.
Dari patih perintah turun ke watek. Dari watek turun ke akuwu/akurug, pembesar sekelompok desa (semacam lurah). Dari akuwu ke wanua dan turun ke buyut, pembesar desa. Dari buyut turun kepada penghuni desa. Demikianlah tingkat organisasi pemerintahan di Majapahit, dari pucuk pimpinan negara sampai rakyat pedesaan.
Dalam pelaksanaan tugas kerajaan, raja-raja daerah tadi dibebani tugas untuk mengumpulkan penghasilkan kerajaan, menyerahkan upeti kepada perbendaharaan kerajaan, dan pertahanan wilayah. Mereka dibantu oleh sejumlah penjabat daerah, di mana bentuknya hampir sama dengan birokrasi di pusat tetapi dalam skala yang lebih kecil. Dalam hal ini raja-raja daerah memiliki otonomi untuk mengangkat pejabat-pejabat birokrasi bawahannya.
Selain pejabat birokrasi yang telah disebutkan tadi, masih banyak sejumlah pejabat sipil dan militer lainnya. Mereka adalah kepala jawatan (tanda), nayaka, pratyaya,drawwayahaji, dan surantani, yang bertugas sebagai pengawal raja dan lingkungan keraton.
Mengenai birokrasi kerajaan, menurut berita Cina dari zaman Dinasti Sung (960-1279), bahwa raja Jawa waktu itu memunyai lebih dari 300 penjabat yang mencatat penghasilan kerajaan. Selain itu, ada kira-kira 1.000 orang penjabat rendahan yang mengurusi benteng-benteng, parit-parit kota, perbendaharaan, dan lumbung-lumbung negara.
Sedangkan dalam kitab Praniti Raja Kapa-Kapa, diuraikan bahwa ada 150 menteri dan 1.500 penjabat rendahan.
Praniti Raja Kapa-Kapa mengungkapkan bagaimana sifat-sifat seorang abdi kerajaan (abdi kerajaan adalah semua pegawai dan pejabat kerajaan yang menjalankan fungsinya sebagai abdi raja/abdi negara).
Praniti Raja Kapa-Kapa adalah sebuah sajak/syair berbait sepuluh yang konon sering dibacakan di kalangan kraton pada saat-saat tertentu yaitu berkumpulnya para pejabat negara, mungkin pada saat “rapat kerja” atau “sidang kabinet” yang dilakukan pada bulan-bulan phalguna caitra.
Satu tafsiran populer yang menarik adalah mengenai sifat dan watak mantri ataumenteri, yang berasal dari kata ma-tri atau tiga ciri utama, yaitu tiga sifat dasar yang harus dimiliki oleh setiap pejabat negara yang baik, yakni berupa setya (kesetiaan),sadu (kerendahan hati), dan tuhu (kesungguhan).
Melihat struktur pemerintahannya, sistem pemerintahan di Majapahit bersifat teotorial dan disentralisasi, dengan birokrasi yang terinci. Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa, memegang otoritas politik tertinggi.
Hubungan antara raja dengan pegawai-pegawainya dalam birokrasi pemerintahan kerajaan berbentuk clienship, yaitu ikatan seorang penguasa politik tertinggi dan orang yang dikuasakan untuk menjalankan sebagian dari kekuasaan penguasa tertinggi.
Wilayah kerajaan yang berupa negara-negara daerah disamakan dengan tempat tinggal para dewa lokapala yang terletak di empat penjuru mata angin.
Lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit
Saat Majapahit memasuki era pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk:
Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. Area awal Majapahit atau Majapahit Lama selama masa pembentukannya sebelum memasuki era kemaharajaan. Yang termasuk area ini adalah ibukota kerajaan dan wilayah sekitarnya dimana raja secara efektif menjalankan pemerintahannya. Area ini meliputi setengah bagian timur Jawa, dengan semua provinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan), yang merupakan kerabat dekat raja.
Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh budaya Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk aliansi atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan pegawainya di tempat-tempat ini dan mengatur kegiatan perdagangan luar negeri mereka dan memungut pajak, namun mereka menikmati otonomi internal yang cukup penting. Termasuk didalamnya daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dramasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra.
Nusantara, adalah area yang tidak merefleksikan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup dan kebebasan internal, dan Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara militernya di sini; akan tetapi, tantangan apa pun yang terlihat mengancam Majapahit akan menghasilkan reaksi keras. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
(Uraian lebih rinci tentang Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majaphit akan diwedar kemudian).
Hubungan Diplomatik
Ketiga kategori di atas termasuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri, yang disebut dengan Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti “mitra dengan tatanan (aturan) yang sama“. Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit.
Menurut Nāgarakṛtāgama pupuh 15, bangsa asing adalah Syangkayodhyapura(Ayutthaya dari Thailand), Dharmmanagari (Kerajaan Nakhon Si Thammarat),Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa(Kamboja), dan Yawana (Annam).
Mitreka Satata dapat dianggap sebagai aliansi Majapahit, karena kerajaan asing di luar negeri seperti Cina dan India tidak termasuk dalam kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar negeri dengan kedua bangsa ini.
Sumber phrasa Mitreka Satata berasal dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada zaman keemasan kerajaan Majapahit. Semboyan Mitreka Satata ini dipakai oleh Mahapatih kerajaan Majapahit yaitu Gajah Mada.
Sebagai landasan dalam menjalankan politik luar negeri Majapahit yang bersifat sahabat, hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara tetangga.
Tata Urutan Keprajuritan Majapahit dalam Tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit
Pada masa kini urutan kepangkatan militer/keprajuritan Indonesia banyak dipengaruhi oleh keprajuritan negara-negara asing (khususnya Amerika Serikat), demikian juga istilah-istilah kepangkatannya. Pada umumnya urutan jenjang struktur dan kepangkatan militer masa kini adalah:
1.     squad (regu), unit tembak dan unit assault (8-16 orang), satuan pelaksana operasi terkecil dalam ketentaraan, dipimpin kopral-sersan;
2.     platoon (peleton), 2-3 regu (20-60 orang), dipimpin oleh letnan;
3.     company (kompi), 2-5 peleton (70-200 orang), dipimpin oleh kapten
4.     battalion (batalion), 2-5 kompi (300-1000 orang), dipimpin oleh mayor-letkol;
5.     regimen (resimen), 2-5 batalion (1000-3000 orang), dipimpin oleh kolonel;
6.     brigade, 2-3 resimen (2000-5000 orang), dipimpin oleh kolonel-brigjen;
7.     division (divisi), 2-3 brigade (10.000 orang), dipimpin oleh mayjen;
8.     corps (korps), 2 atau lebih divisi, dipimpin oleh letjen;
9.     army group, 2-3 corps, dipimpin oleh jendral.
Berikut diwedar kembali susunan Tata Pemerintahan Majapahit:
1. Sri Maharaja:
Sri Maharaja dianggap sebagai penjelmaan Dewa tertinggi. Memegang otoritas kebijakan politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan.
2. Bhatara Sapta Prabu:
Bhattara Saptaprabhu adalah pejabat tinggi kerajaan semacam Dewan Pertimbangan Agung atau Penasehat Raja.
3. Yuwaraja:
Raja Muda. Putra Mahkota.
4. Mahapatih Hamangkubumi:
Mahapatih Amangkubhumi adalah jabatan yang tertinggi setelah Raja, yakni semacam Perdana Menteri (mantri mukya). Mahapatih Amangkubumi mengepalai Badan Pelaksana Pemerintahan dan bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan kerajaan.
5. Mahamentri i hino:
Mahamenteri Hino mempunyai kedudukan penting setelah Raja dan menerima perintah langsung dari Raja. Namun Mahamenteri Hino bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah Raja, titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya. Di antara ketiga penjabat Mahamenteri, Mahamenteri Hinolah yang terpenting dan tertinggi. Mahamenteri Hino mempunyai hubungan yang paling dekat dengan Raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti).
6. Mahamentri i sirikan:
Mahamenteri Sirikan mempunyai kedudukan penting setelah Raja dan menerima perintah langsung dari Raja. Namun Mahamenteri Sirikan juga bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah Raja, titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya.
Di antara ketiga penjabat Mahamenteri, Mahamenteri Sirikan menduduki tempat tertinggi kedua setelah Mahamenteri Hino. Mahamenteri Sirikan juga mempunyai hubungan yang dekat dengan Raja, tetapi tidak berhak mengeluarkan piagam (prasasti).
7. Mahamentri i halu:
Mahamenteri Halu mempunyai kedudukan penting setelah Raja dan menerima perintah langsung dari Raja. Namun Mahamenteri Halu juga bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah Raja, titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya. Di antara ketiga penjabat Mahamenteri, Mahamenteri Halu menduduki tempat terbawah. Mahamenteri Halu juga mempunyai hubungan yang dekat dengan Raja, tetapi tidak berhak mengeluarkan piagam (prasasti).
8. Pasangguhan Pranaraja:
Pasangguhan Pranajaya adalah pejabat tinggi kerajaan semacam hulubalang istana yang bertugas merencanakan dan mengambil keputusan tentang seluk beluk pemerintahan yang harus dilaksanakan para pejabat di bawahnya.
9. Pasangguhan Nayapati:
Pasangguhan Nayapati adalah pejabat tinggi kerajaan semacam hulubalang istana namun kedudukannya di bawah Pasangguhan Pranaraja yang juga bertugas merencanakan dan mengambil keputusan tentang seluk beluk pemerintahan yang harus dilaksanakan para pejabat di bawahnya.
10. Rakryan Patih:
Rakryan Patih merupakan Pejabat Negara paling tinggi diantara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan lain yang dikepalainya yaitu Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan); Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara); Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan); Rakryan Rangga (Pembantu Panglima). Mereka menjalankan tugas yang diberikan oleh kerajaan dan mempunyai hubungan luas dengan berbagai daerah yang ada di bawah naungan kerajaan.
11. Rakryan Demung:
Rakryan Demung merupakan pejabat tertinggi kedua diantara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan. Rakryan Demung bertugas mengatur Rumah Tangga Kerajaan.
12. Rakryan Kanuruhan:
Rakryan Kanuruhan merupakan pejabat tertinggi ketiga di antara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan. Rakryan Kanuruhan melaksanakan tugas-tugas protokoler dan bertugas sebagai penghubung diantara para pejabat kerajaan
13. Rakryan Tumenggung:
Rakryan Tumenggung adalah Pejabat Pelaksana Pemerintahan Bidang Militer, beliau adalah Panglima Tentara Kerajaan, sebagai Panglima Perang Kerajaan, Rakryan Temenggung bertugas langsung membawahi para Senopati (Kepala Pasukan Kerajaan). Rakryan Temenggung bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan kerajaan.
14. Rakryan Rangga:
Rakryan Rangga merupakan Pejabat Pelaksana Pemerintahan Wakil Panglima Tentara Kerajaan.
15. Sang Wredhamenteri:
Sang Wredhamenteri merupakan para Menteri Senior yang bertugas membantu para pejabat tinggi kerajaan diatasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.
16. Sang Yuwamenteri:
Sang Yuwamenteri merupakan para Menteri Muda yang bertugas membantu Sang Wredamenteri juga para pejabat tinggi kerajaan lain diatasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.
17. Sang Aryadhikara:
Sang Aryadhikara merupakan pejabat kerajaan yang berasal dari para Thanda (semacam pegawai kerajaan) berpangkat tinggi yang bertugas membantu Sang Wredamenteri, Sang Yuwamenteri dan para pejabat tinggi kerajaan lain diatasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.
18. Dharmmadhyaksa:
Dharmmadhyaksa adalah penjabat tinggi kerajaan yang mempunyai tugas khusus secara yuridis mengurus masalah-masalah sosial kemasyarakatan, etika dan hubungan antar umat beragama.
19. Dharmmauppapati:
Dharmmauppapati adalah pejabat yang membantu Dharmmadhyaksa dan mempunyai tugas khusus yang sama dengan Dharmmadhyaksa yaitu mengurus masalah-masalah sosial kemasyarakatan, etika dan hubungan antar umat beragama.
Tata Keprajuritan Kerajaan Majapahit:
1. Sri Maharaja:
Sri Maharaja adalah pemegang kekuasaan tertinggi Keprajuritan Kerajaan, beliau adalah Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan. (Raja-raja pada zaman Mataram Baru menggunakan gelar Sénopati-Ing-Ngalågå sebagai Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan.
Gelar ini dipakai oleh Sultan Yogyakarta sekarang, Sri Sultan Hamengkubuwono ke X.Ngarså Dalêm. Sampéyan Dalêm Ingkang Sinuwun Kanjêng Sultan Hamêngku Buwånå, Sénopati Ing Ngalågå Ngabdulrahman Sayidin Panåtågåmå, Kalifatullah Ingkang Jumênêng Kaping Sadåså ing Ngayogyåkartå Hadiningrat. (mungkin dapat dipersamakan dengan Jendral Besar, Jendral Bintang Lima).
2. Mahapatih Hamangkubumi:
Sebagai Mahapatih Amangkubhumi yang juga mengepalai seluruh Jajaran Keprajuritan Kerajaan. (Kalau sekarang mungkin dapat dismakan dengan Menteri Pertahanan).
3. Rakryan Tumenggung:
Rakryan Tumenggung adalah Pejabat Pelaksana Pemerintahan yang bertugas di bidang Keprajuritan, sebagai militer aktif. Rakryan Tumenggung adalah pangkat tertinggi dibidang kemiliteran kerajaan. Ahli strategi perang. (kalau sekarang dapat disetarakan dengan Panglima Tentara Nasional. Pangkat: Jendral/Laksamana/ Marsekal).
4. Rakryan Rangga: Rakryan Rangga adalah pemimpin langsung satu kesatuan militer (sekarang kira-kira sama dengan Panglima Divisi, pangkat: Letnan Jendral/Laksamana Madya/Komodor, mungkin juga Jendral atau Laksamana).
Tercatat selama Pemerintahan Jayanegara ada tiga divisi utama kerajaan, yaitu: Jala Yudha, Jala Pati dan Jala Rananggana. Sebutan Jala menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit merupakan Negara Maritim (Jala = Kelautan).
Satu dari tiga divisi yakni Jala Rananggana melakukan makar terhadap Sang Prabu Jayanegara. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral.
5. Senopati:
Senopati adalah Kepala Pasukan Tentara Kerajaan, yang memimpin langsung sejumlah besar pasukan kerajaan di mana di dalamnya termasuk Bekel dan Lurah Prajurit. Kedudukan Senopati langsung berada dibawah perintah Rakryan Tumenggung. (Setara dengan Komandan Brigade atau Komandan Resimen, atau paling tidak Komandan Batalion, pangkat: Brigjen atau paling tidak Kolonel).
6. Bekel:
Bekel adalah Kepala Pasukan Tentara kecil yang langsung berada di bawah perintah Rakryan Tumenggung dan Senopati. (Setara dengan komandan kompi, pangkat Kapten).
7. Lurah Prajurit:
Lurah Prajurit adalah para Kepala Prajurit yang membawahi sejumlah kecil prajurit dan berada langsung dibawah perintah Senopati dan Bekel. (Semacam kepala regu atau komandan peleton, pangkat: Letnan).
8. Prajurit Pasukan Khusus:
Prajurit Pasukan Khusus adalah prajurit yang dibekali kemampuan khusus untuk menjalankan misi-misi kerajaan dan langsung berada di bawah perintah para pimpinan prajurit di atasnya. Contoh Prajurit: Bhayangkâri adalah Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja.
9. Prajurit:
Prajurit merupakan pasukan yang bergerak di garis depan dalam melindungi kerajaan terutama dalam medan pertempuran dan langsung berada di bawah perintah para pimpinan prajurit di atasnya.
Peperangan
Berita Cina dari dinasti Ming menyatakan bahwa pada tahun 1377 Suwarnabumi diserbu oleh tentara Jawa. Putra Mahkota Suwarnabumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan dari kaisar Cina.
Karena takut kepada raja Jawa. Kaisar Cina lalu mengirim utusan ke Suwarnabumi untuk mengantarkan surat pengangkatan namun ditengah jalan dicegat oleh tentara Jawa dan dibunuh.
Meski pun demikian, kaisar Cina tidak mengambil tindakan balasan terhadap raja Jawa, karena mengakui tindakan balasan tidak dapat dibenarkan. Sebab utama serbuan tentara jawa pada tahun 1377 ialah pengiriman utusan ke Cina diluar pengetahun raja Jawa oleh raja Suwarnabumi pada tahun 1373.
Pengiriman utusan itu dipandang sebagai pelanggaran status Negara Suwarnabumi, yang sebenarnya dalah Negara bawahan Majapahit; tarikh pendudukan Suwarnabumi diperkirakan disekitar tahun 1350. Keruntuhannya menyebabkan jatuhnya daerah-daerahnya di Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu, tunduk kedalam kekuasan Majapahit.
12 negara bawahan Suwarnabumi; 1). Pahang, 2). Trengganu, 3). Langkasuka, 4). Kelantan, 5). Woloan, 6). Cerating, 7). Paka, 8). Tembeling, 9.) Berahi, 10). Palembang, 11). Muara Ampe, dan 12). Lamuri. Hampir semuanya disebut Negara bawahan Majapahit dalam Nāgarakṛtāgama.
Daftar itu juga menyebut nama daerah bawahan lainnya. Rupanya Palembang dijadikan batu loncatan bagi tentara Majapahit untuk menundukan daerah-daerah lainya disebelah barat pulau Jawa.
Namun di daerah-daerah ini tidak ditemukan piagam sebagai bukti adanya kekuasan Majapahit. Hikayat-hikayat daerah yang ditulis kemudian menyinggung adanya hubungan antara berbagai daerah dan Majapahit dalam bentuk dongeng, tidak sebagai catatan sejarah.
Dongengan itu hanya menunjukkan kekaguman-kekaguman terhadap Majapahit.
Sejarah Melayu mencatat dongeng tentang serbuan kejayaan Tumasik oleh tentara Majapahit berkat Blot seorang pegawai kerajaan, yang bernama Rajuna Tapa. Konon sehabis peperangan Rajuna Tapa kena kutukan sebagai balasan atas pengkhianatannya, berubah menjadi batu di sungai Singapura, rumahnya roboh, dan beras simpanannya menjadi punah.
Dongengan itu mengingatkan serbuan Tumasik oleh tentara Majapahit sekitar tahun 1350, karena Tumasik termasuk kedalam salah satu pulau yang harus ditundukkan dalam program politik Gajah Mada dan tercatat dalam daftar daerah bawahan Majapahit di dalam Nāgarakṛtāgama.
Negara Islam Samudra Pasai di Sumatra Utara juga tercatat sebagai negara bawahan Majapahit. Dongeng tentang serbuan Pasai oleh tentara Majapahit diberitakan dalam hikayat raja-raja Pasai.
Isinya demikian:
Pada pemerintahan Sultan Ahmad di pasai putri Gemerencang dari Majapahit jatuh cinta kepada Abdul Jalil putra raja Ahmad. Oleh karena itu ia berangkat ke Pasai dengan membawa banyak kapal sebelum mendarat terdengar kabar bahwa Abdul Jalil dibunuh oleh bapaknya. Karena kecewa dan putus asa Putri Gemerencang berdoa kepada dewa agar kapalnya tenggelam.
Doa itu dikabulkan dan kapalnya tenggelam, mendengar kabar itu raja Majapahit menjadi murka, lalu mengerahkan tentara untuk menyerang Pasai. Ketika Majaphit menyerbu Pasai sultan Ahmad berhasil melarikan diri namun Pasi dapat dikuasai.
Ekpedisi ke Sumatra mungkin sekali dipimpin oleh Gajah Mada sendiri karena ada beberapa nama tempat di Sumatra yang mengingatkan serbuan Pasai oleh tentara Majapahit dibawah pimpinan Gajah Mada dan memang dongengnya ditafsirkan demikian oleh masyarakat setempat.
Misalnya sebuah bukit di dekat kota Langsa yang bernama Majak Pahit. Menurut dongeng tentara Majapahit membuat benteng di bukit itu dalam persiapan menyerang Temiang. Rawa antara Perlak dan Peu Dadawa bernama Paya Gajah (Gajah Mada) menurut dongeng rawa itu dilalui oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada dalam perjalanan menuju Loksumawe dan Jambu Air yang menjadi sasaran utamanya.
Angkatan Laut Kerajaan Majapahit
Dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama dikenal seorang pelaut ulung, yang merupakan tangan kanan Sang Mahapatih Gajah Mada di dalam tugas mempersatukan kepulauan-kepulauan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
Konon rahasia kekuatan armada angkatan laut Kerajaan Majapahit sejak jaman Gajah Mada yaitu terletak pada kharisma pimpinan angkatan laut, dia adalah Senopati Sarwajala Mpu Nala, (dapat disetarakan dengan Panglima atau Kepala Staf Angkatan Laut dengan pangkat Laksamana Muda atau Laksamana Madya Laut),
Di bawah kendali Senopati Sarwajala Mpu Nala, kapal-kapal perang Kerajaan Majapahit mengarungi samudra menaklukkan satu demi satu pulau-pulau dan negara-negara di kawasan Nusantara dalam rangka mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Majapahit.
Kelak setelah Mahapatih Gajah Mada lengser, Mpu Nala berpangkat Tumenggung, dengan demikian namanya adalah Rakryan Tumenggung Nala. (Laksamana Nala).
Mpu Nala dalam membangun kekuatan laut yang tersohor kala itu, beliau menemukan sejenis pohon raksasa yang dirahasiakan lokasinya, untuk membangun kapal-kapal Majapahit yang berukuran besar di masa itu.
(Berita berikut di bawah ini masih diragukan kebenarannya, karena belum ada rujukan yang bernilai historis):
Konon persenjataan kapal-kapal Majapahit berupa meriam Jawa. Gajah Mada kecil pernah diasuh oleh tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok.
Gajah Mada diajarkan oleh pengasuhnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana. Selanjutnya Gajah Mada mengembangkan senjata api itu untuk mempersenjatai kapal-kapal perang Majapahit ciptaan Mpu Nala yang istimewa itu, hingga mampu merajai wilayah di perairan Selatan (Nan Yang).


BENDERA KERAJAAN MAJAPAHIT
 dan
Sang Saka Gula Kelapa, Sang Merah Putih
Bendera Kerajaan Majapahit
Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira, di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa, siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela …….Sang Merah-Putih yang perwira, berkibarlah selama-lamanya”.
Lagu diatas diciptakan oleh Ibu Soed tentang bendera Merah-Putih, bendera Indonesia. Bendera Merah-Putih? Sebenarnya hanya terdiri atas dua potong kain saja yang terdiri dari warna Merah berada diatas dan warna Putih berada dibawah yang kemudian dijahit menjadi satu.
Namun kedua potong kain inilah yang menjadi lambang kebesaran bangsa Indonesia, ciri khas Indonesia, serta menjadi lambang kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku yang Bhinneka Tunggal Ika.
Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai dan kepribadian tersendiri, sesuai dengan riwayat sejarah bangsa itu masing-masing.
Demikian halnya dengan Sang Merah Putih bagi bangsa Indonesia, warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dan dibuat secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sejarah yang sama lamanya dengan sejarah perkembangan bangsa Indonesia.
Ditinjau dari segi sejarah, sejak dahulu kala kedua warna merah dan putih mengandung makna yang suci. Warna merah mirip dengan warna gula jawa/gula aren dan warna putih mirip dengan warna nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa.
Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.
Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul Abang Putih), ternyata Majapahit mempunyai bendera kerajaan yaitu bendera Merah-Putih dan Prajurit Majapahit dinamakan Prajurit Gula Kelapa.
Gula Kelapa itu berwarna Merah dan terbuat dari sari buah Kelapa yang berwarna Putih. Ada juga yang menyebutkan bahwa prajurit Majapahit dinamakan Prajurit Getih-Getah seperti yang kita ketahui bahwa Getih itu berwarna Merah dan Getah berwarna Putih.
Adapun makna dari bendera Merah-Putih ada dua yaitu Merah berati Berani dan Putih berarti Suci, belakangan ini ada juga yang menyebutkan bahwa merah-putih itu melambangkan darah merah dan tulang putih yang menyatu dalam jiwa raga kita.
Sebelum Majapahit, kerajaan Kadiri telah memakai panji-panji merah putih.
Sang Merah-Putih selalu berkibar dan disambut dengan sangat syahdu dan penuh perasaan hormat pada setiap hari Nasional maupun hari-hari kemenangan dalam bidang prestasi, serta upacara lainnya. Bendera kebangsaan bukan hanya sebagai lambang ataupun ciri khas bangsa Indonesia, tetapi dari pada itu Sang Merah-Putih telah menjadi bagian dari bagian setiap insan Indonesia. Dia telah mendarah daging, menjadi sumsum yang mengalir selamanya dalam diri rakyat Indonesia.
Dua potong kain Dwi Warna Merah dan Putih yang kita kenal sekarang sebagai Bendera Kebangsaan Bangsa Indonesia ini telah dikukuhkan sebagai bendera kebangsaan bangsa Indonesia.
Merah yang bermakna berani karena benar dan Putih yang bermakna suci. Pengorbanan yang besar telah ditorehkan rakyat Indonesia untuk Sang Merah-Putih ! Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah kebangsaan sejak 17 Agustus 1945 Sang Merah-Putih berkibar diseluruh tanah air dan tanggal 29 September 1950 berkibar di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh-puluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai, dan kepribadian sendiri-sendiri, sesuai dengan riwayat bangsa masing-masing.
Demikian pula dengan bendera merah putih bagi Bangsa Indonesia. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma-cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.
Menurut sejarah, Bangsa yang sekarang mendiami daerah yang kita kenal dengan Indonesia, memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina.
Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan.
Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya CandraAditya berarti Matahari dan Candra berarti Bulan.
Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.
Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.
Pada zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getih-getah. Getih-Getah yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih.
Getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan, dan Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.
Pada permulaan masehi selama dua abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi.
Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan genderang besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali genderang ini disebut Nekara Bulan Pejeng yang disimpan dalam pura.
Pada nekara tersebut di antaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung.
Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat makam berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.
Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya?
Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar.
Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.
Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah.
Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya.
Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.
Pada abad XIX tentara Napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi.
Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara.
Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.
Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.
Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.
Tata cara pengibaran dan pemaSångån bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.
Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII.
Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur, dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu relief pada dindingnya terdapat “pataka di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar”.
Adanya ukiran pada dinding Candi Borobudur (dibangun pada awal abad ke- 9) menjadi salah-satu bukti awal beliau, di mana pada ukiran tersebut menggambarkan tiga orang hulubalang membawa umbul-umbul berwarna gelap dan terang, di duga melambangkan warna Merah dan Putih.
Keterangan untuk ukiran itu menyebutnya sebagai Pataka atau Bendera. Catatan-catatan lain sekitar Borobudur juga sering menyebut bunga Tunjung Mabang (Merah) dan Tunjung Maputeh (Putih).
Ukiran yang sama juga tampak di Candi Mendut, tidak jauh Candi Borobudur, yang kurang lebih bertarikh sama.
Dari bukti ukiran Candi Borobudur ini, Prof. H. Muhammad Yamin dengan rajin mengumpulkan banyak bukti sejarah lain yang dapat di kaitkan dengan pemujaan terhadap lambang, warna Merah dan Putih di setiap celah budaya Nusantara.
Di bekas kerajaan Sriwijaya tampak pula berbagai peninggalan dengan unsur-unsur warna Merah dan Putih.
Antonio Pigafetta, seorang pencatat dalam pelayaran Marcopolo di abad 16, dalam kamus kecilnya yang berisi 426 kata-kata Indonesia, memasukan entri Cain Mera dan Cain Pute, yang di terjemahkan sebagai Al Panno Rosso et Al Panno Bianco.
Bila tidak sering melihat kombinasi Merah-Putih sebagai satu kesatuan, mungkinkah Pigafetta memasukkannya sebagai sebuah entri ?
Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.
Prabu Airlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau Burung Merah Putih. Demikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.
Kerajaan Singasari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singasari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan Bendera Merah Putih pada tahun 1292.
Sejarah itu disebut dalam tulisan bahwa Jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan R. Wijaya.
Pada saat itu tentara Singasari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji-panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi.
Kidung Pararaton menerangkan:
Samangka siraji jayakathong mangkat marep ing Tumapel, sanjata kang saka lor ing Tumapel, wong Deha naghala hala, tunggul kalawan tatabuhan penuh
[Sekarang raja Jaya Kathong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang Daha yang tidak baik, berbendera dan bunyi bunyian penuh].
Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singasari , padahal pasukan Singasari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak.
Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singasari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto.
Berkibarlah warna merah dan putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan Piagam Merah-Putih, namun masih terdapat salinannya.
Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Pethak yang dibawa oleh tentara Pamalayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan pethak=putih).
Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai Keraton Merah-Putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya berwarna putih.
Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah-putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar–pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah-putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem.
Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXIII: 1.
An mangka kottaman sri-narapati siniwing tiktawilwaikanatha
Saksat candreng sarat kastawan ira n-agawe tusta ning sarwwaloka
Lwir padma ng durjjana lwir kumuda sahana sang sajjanasih teke twas
Bhrtya mwang kosa len wahana gaja turagadanya himper samudra.
[Begitulah keluhuran Sri Baginda ekananta di Wilwatika,
Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang,
Berani laksana tunjung merah, suci bagaikan teratai putih,
Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.]
Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah-putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan.
Dalam Keraton Solo terdapat panji-panji peninggalan Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji-panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Sang Såkå Gulå Kelåpå. dilihat dari warna merah dan putih.
Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.
Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu balang. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman.
Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul-umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera, di atas tiang armada Bugis yang terkenal.
Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya.
Dalam aliran agama asli Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat.
Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum perempuan.
Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara-upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.
Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah-tengah pasukan Diponegoro yang beribu-ribu juga terlihat kibaran bendera merah-putih, demikian juga di lereng-lereng gunung dan desa-desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah-putih.
Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra-putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Agêng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.
Empat warna utama dalam mitologi jawa, yakni Merah sebagai lambang amarah, Putih sebagai lambang Mutmainnah, Kuning sebagai lambang Supiah, dan Hitam sebagai lambang Luwainnah. Dua keraton di Solo, misalnya menggunakan lambang-lambang warna itu sebagai benderanya.
Keraton Susuhunan Paku Buwono memakai simbol Timur-Selatan yang dilambangkan dengan warna Gulå-Kelåpå atau Merah-Putih. Sedangkan Keraton Mangku Negoro memakai simbol Barat-Utara yang dilambangkan dengan warna Hijau-Kuning. Getaran warna Hijau sama dengan warna Hitam lambang Luwainnah.
Warna Merah dan Putih tidak hanya di pakai sebagai lambang penting oleh kerajaan Mataram. Pada abad ke-16, dua bilah cincin berpermata Merah dan Putih diwariskan oleh Raja Majapahit kepada Ratu Jepara yang bernama Kalinyamat.
Kapal-kapal perang Ratu Kalinyamat ketika melakukan penyerbuan melawan orang-orang Portugis di perairan Laut Jawa, pada tiang-tiang utama kapal berkibar bendera Merah Putih.
Di kerajaan Mataram sendiri, umbul-umbul Gulå-Kelåpå yang berwana Merah-Putih terus dimuliakan oleh Sultan Agung serta Raja-Raja yang meneruskannya.
Perlawanan rakyat yang di pimpin oleh Pangeran Diponegoro pada abad ke-19 di mulai dengan barisan rakyat yang mengibarkan umbul-umbul Merah-Putih berkibar di mana-mana.
Rakyat berkeyakinan bahwa Merah-Putih adalah pelindung mereka dari segala marabahaya. Pada abad ke-19 itu pula, para pemimpin dan pengikut gerakkan Paderi di Sumatera Barat banyak yang mengenakan sorban berwarna Merah dengan jubah berwarna Putih, untuk menandai gerakan perlawanan kaum Paderi terhadap Belanda.
Kata tunggul, dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobudur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih.
Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.
Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain:
Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang-pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Qur’an.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah-putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.
Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.
Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Soempah Pemoeda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :
Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah-putih tanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh penciptanya sendiri WR Supratman.
Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah-putih telah berkibar di dada peserta, yang dibuktikan dengan panitia kongres mengenakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang dipasang di dada kiri. Demikian juga pada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah-putih.
Kegiatan pandu, suatu organisasi kepanduan yang bersifat nasional dan menunjukkan identitas kebangsaan dengan menggunakan dasi dan bendera merah-putih.
Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk Van der Plass tokohnya sangat ketat memperhatikan gerak-gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang dibuat para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkannya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.
Pengibaran Bendera Merah-Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang pada masa pendudukan Jepang, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan yang nantinya menuju pada kemerdekaan.
Kemudian pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan Bendera Merah-Putih diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentuk panitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.
Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera Merah-Putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945. Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.
Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh badan dunia.
Bendera Merah-Putih mempunyai persamaan dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah Negara kecil di bagian selatan Prancis, tapi masih ada perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako di bagian tengah terdapat lambang kerajaan dan ukurannya dengan perbandingan 2,5 : 3, sedangkan bendera merah putih dengan perbandingan 2 : 3 (lebar 2 meter, panjang 3 meter) sesuai Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958.
Kerajaan Monako menggunakan bendera bukan sebagai lambang tertinggi karena merupakan sebuah kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera merah putih merupakan lambang tertinggi.
Bendera Indonesia, Merah Putih, sering diartikan “berani” dan “suci”. Apakah ini pemaknaan budaya modern atau budaya Indonesia promodern? Mengapa kini bangsa Indonesia memilih simbol merah dan putih sebagai jati diri? Mengapa merah di atas dan putih di bawah, bukan sebaliknya? Dari mana simbol ini berasal?
Berbagai pertanyaan itu tak pernah diajukan orang sejak Mohammad Yamin menjelaskannya dalam buku yang tak pernah dicetak ulang. 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih, tahun 1958. Dijelaskan, warna merah simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan. Merah putih bermakna “zat hidup”. Hanya tidak dijelaskan makna “zat hidup”.
Buku ini ingin membuktikan, Merah Putih sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak kedatangan mereka di kepulauan Nusantara 6.000 tahun lampau.
Makna merah-putih tidak cukup ditelusuri dari jejak arkeologi bahwa warna merah, putih, dan hitam dapat dijumpai pada berbagai peninggalan prasejarah, candi, dan rumah adat.
Artefak-artefak itu hanya ungkapan pikiran kolektif suku-suku di Indonesia. Maka, arkeologi pikiran kolektif inilah yang harus digali dan masuk otoritas antropologi-budaya atau antropologi-seni. Alam pikiran semacam itu masih dapat dijumpai di lingkungan masyarakat adat sampai sekarang.
Warna merah, putih, hitam, kuning, dan campuran warna- warna itu banyak dijumpai pada ragam hias kain tenun, batik, gerabah, anyaman, dan olesan pada tubuh, yang menunjukkan keterbatasan penggunaan warna- warna pada bangsa Indonesia.
Kaum orientalis menuduh bangsa ini buta warna di tengah alamnya yang kaya warna. Benarkah bangsa ini buta warna? Atau bangsa ini lebih rohaniah dibandingkan dengan manusia modern yang lebih duniawi dengan pemujaan aneka warna yang seolah tak terbatas?
Alam rohani dan duniawi. Alam rohani lebih esensi, lebih sederhana, lebih tunggal. Sedangkan alam duniawi lebih eksisten, kompleks, dan plural.
Bangsa Indonesia pramodern memandang hidup dari arah rohani daripada duniawi. Inilah sebabnya penggunaan simbol warna lebih sederhana ke arah tunggal. Jika disebut buta warna, berarti buta duniawi, tetapi kaya rohani.
Berbagai perbedaan hanya dilihat esensinya pada perbedaan dasar, yakni laki-laki dan perempuan. Semua hal yang dikenal manusia hanya dapat dikategorikan dalam dualisme-antagonistik, laki-perempuan. Matahari itu lelaki, bulan perempuan. Dan puluhan ribu kategori lain.
Pemisahan “lelaki” – “perempuan” itu tidak baik karena akan impoten. Potensi atau “zat hidup” baru muncul jika paSångån-paSångån dualistik itu diharmonikan, dikawinkan, ditunggalkan. Itu sebabnya tunggalnya merah dan putih menjadi dwitunggal. Satu tetapi dua, dua tetapi tunggal. Dwitunggal merah-putih menjadi potensi, zat hidup.
Harmoni bukan sintesis. Sintesis merah-putih adalah merah jambu. Bendera Indonesia tetap Merah Putih, dwitunggal.
Dalam sintesis tidak diakui perbedaan karena yang dua lenyap menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti yang plural menjadi satu entitas. Yang plural tetap plural, hanya ditunggalkan menjadi zat hidup. Sebuah kontradiksi, paradoks, yang tidak logis menurut pikiran modern.
Dalam pikiran modern, Anda harus memilih merah atau putih atau merah jambu. Lelaki atau perempuan atau banci.
Dalam pikiran pramodern Indonesia, ketiganya diakui adanya, merah, putih, merah jambu. Merah jambu itulah Yang Tunggal, paradoks, Zat Hidup, karena Yang Tunggal itu hakikatnya Paradoks. Jika semua ini berasal dari Yang Tunggal, dan jika semua ini dualistik, Yang Tunggal mengandung kedua-duanya alias paradoks absolut yang tak terpahami manusia.
Tetapi itulah Zat Hidup yang memungkinkan segalanya ini ada.
Yang Tunggal itu metafisik, potensi, being. Yang Tunggal itu menjadikan Diri plural (becoming) dalam berbagai paSångån dualistik. Inilah pikiran monistik dan emanasi, berseberangan dengan pikiran agama-agama samawi. Harus diingat, merah-putih telah berusia 6.000 tahun, jauh sebelum agama-agama besar memasuki kepulauan ini. Warna merah, putih, dan hitam ada di batu-batu prasejarah, candi, panji perang.
Putih adalah simbol langit atau Dunia Atas, merah simbol dunia manusia, dan hitam simbol Bumi atau Dunia Bawah. Warna-warna itu simbol kosmos, warna-warna tiga dunia.
Alam pikiran ini hanya muncul di masyarakat agraris. Obsesi mereka adalah tumbuhnya tanaman (padi, palawija) untuk keperluan hidup manusia. Tanaman baru tumbuh jika ada harmoni antara langit dan bumi, antara hujan dan tanah.
Antara putih dan hitam sehingga muncul merah. Inilah yang menyebabkan masyarakat tani di Indonesia “buta warna”.
Buta warna semacam itu ada kain-kain tenun, kain batik, perisai Asmat, hiasan rumah adat. Meski dasarnya triwarna putih, merah, hitam, terjemahannya dapat beragam. Putih menjadi kuning. Hitam menjadi biru atau biru tua. Merah menjadi coklat. Itulah warna-warna Indonesia.
Kehidupan dan kematian. Antropolog Australia, Penelope Graham, dalam penelitiannya di Flores Timur (1991) menemukan makna merah dan putih agak lain. Warna merah dan putih dihubungkan dengan darah. Ungkapan mereka, “darah tidak sama”, ada darah putih dan darah merah.
Darah putih manusia itu dingin dan darah merah panas. Darah putih itu zat hidup dan darah merah zat mati. Darah putih manusia mendatangkan kehidupan baru, kelahiran. Darah merah mendatangkan kematian.
Darah putih yang tercurah dari lelaki dan perempuan menimbulkan kehidupan baru, tetapi darah merah yang tercurah dari lelaki dan perempuan berarti kematian.
Makna ini cenderung mengembalikan putih untuk perempuan dan merah untuk lelaki, karena hanya kaum lelaki yang berperang. Mungkin inilah hubungan antara warna merah dan keberanian. Merah adalah berani (membela kehidupan) dan putih adalah suci karena mengandung “zat hidup”.
Mengapa merah di atas dan putih di bawah? Mengapa tidak dibalik? Bukankah merah itu alam manusia dan putih Dunia Atas? Merah itu berani (mati) dan putih itu hidup? Merah itu lelaki dan putih perempuan? Merah matahari dan putih bulan?
Merah panas dan putih dingin? Artinya, langit-putih-perempuan mendukung manusia-merah-lelaki. Asal manusia itu dari langit. Akar manusia di atas. Itulah sangkan-paran, asal dan akhir kehidupan.
Beringin terbalik waringin sungsang. Isi berasal dari Kosong. Imanen dari yang transenden. Merah berasal dari putih, lelaki berasal dari perempuan.
Jelas, Merah-Putih dari pemikiran primordial Indonesia.
Merah-putih itu “zat hidup”, potensi, daya-daya paradoksal yang menyeimbangkan segala hal: impoten menjadi poten, tak berdaya menjadi penuh daya, tidak subur menjadi subur, kekurangan menjadi kecukupan, sakit menjadi sembuh. Merah-putih adalah harapan keselamatan. Dia adalah daya-daya sendiri, positif dan negatif menjadi tunggal.
Siapakah yang menentukan Merah-Putih sebagai simbol Indonesia? Apakah ia muncul dari bawah sadar kolektif bangsa? Muncul secara intuisi dari kedalaman arkeotip bangsa?
Kita tidak tahu, karena merah-putih diterima begitu saja sebagai syarat bangsa modern untuk memiliki tanda kebangsaannya. Merah-Putih adalah jiwa Indonesia

http://dongengarkeologi.wordpress.com/surya-majapahit/bendera-kerajaan-majapahit/

Jakarta - Kejayaan kerajaan Majapahit begitu termasyur dalam berbagai literatur. Namun di mana saksi bisu kemasyuran itu? Letaknya di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Namun saksi bisu berupa struktur bangunan dan beragam arca tersebut sebagian besar masih terpendam di bawah 3 kabupaten atau 66 desa. Beragam ancaman pengerusakan dan kerusakan juga mewarnai peninggalan 'nusantara' ini.

Salah satu dari 66 desa yang berdiri di atas peninggalan tersebut adalah Desa Kemasan yang terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Nama desa ini konon berasal dari banyaknya emas di dalam tanah. Usut punya usut, emas-emas tersebut adalah peninggalan bersejarah kerajaan Majapahit.

"Pelestarian Trowulan dirintis oleh Henry Maclaine, pendiri ITB. Dia mengajak Adipati Mojokerto dan warga setempat untuk melakukan konservasi pusaka kecil-kecilan di Trowulan," kata Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Adrian Perkasa kepada detikcom, Kamis (10/10/2013).

Adrian menceritakan dalam konservasinya itu Henry menemukan situs terpendam dan banyak artefak. Sebagian besar berbalut emas, namun saat pendudukan Jepang Henry ditangkap dan terjadi eksploitasi besar-besaran.

"Hampir setiap hari ditemukan emas saat itu. Sampai muncul para pemburu harta karun selain warga setempat yang ikut memburu emas. Ini terus berlangsung sampai tahun 1965," ujar Adrian.

Kemudian terjadilah Gerakan 30 September yang membuat warga dan para pemburu harta karun meninggalkan Desa Kemasan. Warga desa kembali menjadi petani dan para pemburu emas yang berasal dari negeri seberang meninggalkan Indonesia
Peristiwa yang dikenal dengan PKI itu membuat mereka berhenti mencari emas. Penduduk kembali menjadi petani. Sekarang kalau kita ke sana akan sulit kembali menemukan emas-emas itu. Secara kasat mata, emas itu sudah tidak ada lagi," ujar Adrian.

Menurut Adrian, sampai benar-benar berhenti karena peristiwa G30S itu, berarti selama 30 tahun lebih terjadi eksploitasi. Emas itu diyakini warisan kerajaan Majapahit karena luas pusat pemerintahannya di Trowulan mencapai 112 kilometer persegi.

Situs Trowulan adalah bukti kejayaan Majapahit sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang hendak menyatukan nusantara. Sejumlah organisasi dan lembaga sedang berupaya menyelamatkan situs tata kota kerajaan dan istana Majapahit ini dari kehancuran.

Kehancuran itu karena setiap struktur bangunan dan arca yang ditemukan tak pernah utuh, dalam keadaan rusak. Kerusakan ini diperparah oleh pembangunan pabrik baja yang hanya berjarak 500 meter dari titik situs di Trowulan.

http://news.detik.com/read/2013/10/11/100754/2384281/10/ada-desa-emas-sisa-kerajaan-majapahit-di-trowulan-jatim


"Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung" ~Lembu Sura~

KOMPAS.com - Kalimat di atas adalah "sepatan" alias kutukan yang diucapkan Lembu Sura, tokoh legenda yang mewarnai sejarah Kabupaten Kediri di Jawa Timur. Juga, sejarah kerajaan Majapahit.

Ada beragam versi soal Lembu Sura yang berakhir dengan kutukan dan menjadi sejarah lisan kehadiran Gunung Kelud ini. Meski demikian, semua bertutur tentang cara seorang perempuan cantik menolak lamaran Lembu Sura.

Satu versi, adalah cerita dengan perempuan cantik Dewi Kilisuci yang adalah anak Jenggolo Manik. Versi lain, ini adalah kisah tentang Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya, penguasa tahta Majapahit. Ada versi-versi lain tetapi inti cerita sama.

Kisah ini bermula dari kecantikan yang tersohor, mendatangkan para pelamar, sayangnya yang datang tak sesuai harapan. Tak enak menolak, maka cara sulit diterapkan. Tak beda dengan kisah Rorojonggrang dan legenda candi Prambanan.

Namun, dalam legenda Gunung Kelud, pelamar sang putri ini masih pula bukan manusia. Dia makhluk berkepala lembu. Itulah Lembu Sura.

Untuk menolak lamaran Lembu Sura, dibuatlah syarat pembuatan sumur sangat dalam hanya dalam waktu semalam. Tak dinyana, Lembu Sura ini punya kekuatan dan kemampuan untuk mewujudkan syarat itu.

Melihat perkembangan tak menggembirakan, sang putri pun menangis. Ayahnya, dalam versi kisah yang mana pun, kemudian memerintahkan para prajurit untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali di sumur persyaratan itu.

Batu demi batu dimasukkan ke lubang sumur, menjadi sebentuk bukit menyembul karena ada Lembu Sura di dalamnya. Saat batu dilemparkan, Lembu Sura masih memohon untuk tak ditimbun. 

Begitu menyadari bahwa permohonannya akan sia-sia, keluarlah "sepatan" sebagaimana menjadi kutipan di atas. Sejak saat itulah legenda Gunung Kelud dan kedahsyatan letusan maupun dampaknya mengemuka.

Hancurnya Majapahit

Terlepas dari mitos Lembu Sura, tiga wilayah yang disebut dalam kutukannya itu memang kemudian luluh lantak. Para ahli sejarah memperkirakan letusan pada1586 yang menewaskan lebih dari 10.000 orang adalah akhir dari sejarah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Betul, catatan sejarah menyebutkan Kerajaan Majapahit diperkirakan runtuh pada kisaran angka tahun 1478. Namun, para sejarawan hari ini pun mengakui masih banyak yang belum terkuak soal sejarah kerajaan itu, seperti misalnya dugaan ada dua Majapahit pada satu masa.

Apa kaitannya dengan Gunung Kelud? Tentu saja letusannya. 

http://www.vsi.esdm.go.idPeta rawan bencana letusan Gunung Kelud, yang dirilis Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral menyusul peningkatan status kegunungapian Gunung Kelud menjadi Awas, Kamis (13/2/2014) malam. Gunung ini kembali meletus pada Kamis dengan letusan pertama terjadi pada pukul 22.50 WIB.
Sebelum letusan pada 2007, setidaknya sejak awal abad 1900-an diketahui bahwa kawah Gunung Kelud memiliki danau. Kecuali letusan pada 2007, letusannya pun diketahui bertipe eksplosif, termasuk letusan pada Kamis (13/2/2014) malam.

Dalam sebuah wawancara mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral (ESDM) Surono mengatakan keberadaan danau di kawah ini sama bahayanya dengan lontaran material padat dari letusan gunung.

Surono yang pada Jumat (14/2/2014) diangkat menjadi Kepala Badan Geologi, mengatakan lontaran air dari danau kawah, bila masih ada, bisa mencapai sekitar 37,5 kilometer. Sudah air panas, bercampur magma, masih dipadukan dengan seratusan juta ton material padat yang terlontar.

Kira-kira, karena tak ada catatan sejarahnya, itulah yang terjadi pada letusan 1586. Namun, bukan pula letusan itu saja yang menyebabkan korban jiwa mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Dampak sesudah letusan, tak kurang buruknya.

Diduga, kematian puluhan ribu orang itu juga disebabkan kelaparan. Dengan muntahnya air danau kawah, lontaran material padat, dan abu vulkanik yang mematikan tanaman, dapat diduga tak ada pasokan makanan yang bisa disediakan dalam jumlah besar untuk jumlah warga pada saat itu.

Membaca simbol tradisi lisan untuk mitigasi bencana

Inilah yang kemudian diduga sebagai penyebab benar-benar paripurnanya sejarah kerajaan Majapahit, menutup beragam konflik politik internal zaman itu, maupun legenda kutukan Lembu Sura. 

Sebagai gambaran, letusan pada 1919 yang notabene relatif lebih modern dibandingkan kondisi pada 1586, juga menewaskan ribuan orang. Angka yang tercatat adalah 5.160 orang. Letusan pada 1919 inilah yang mengawali dilanjutkannya upaya pembangunan terowongan di kaki gunung berketinggian 1.731 meter tersebut.

Terowongan-terowongan tersebut berfungsi mengurangi volume air di kawah danau. Catatan tertua tentang upaya mengurangi dampak dari lahar cair, gabungan magma dan air danau yang mendidih, adalah "kelahiran" Sungai Harinjing yang sekarang dikenal sebagai Sungai Sarinjing di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri. Sungai ini merupakan sudetan dari Sungai Konto.

Kehadiran Sungai Serinjing tercatat dalam prasasti Harinjing di Desa Siman. Dalam prasasti yang dikenal pula sebagai Prasasti Sukabumi itu, tertera angka tahun 921 M. Di situ diceritakan soal pembangunan bendungan dan sungai yang dimulai pertama kali pada 804 M. 

Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926, setelah letusan pada 1919, masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama.

Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera. Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik. Volume air di kawah Gunung Kelud susut dan hanya menyisakan genangan pada letusan efusif 2007.

Pada letusan Kamis (13/2/2014) malam, air danau bisa jadi bukan lagi ancaman. Namun, terbukti pada malam itu bawa Gunung Kelud masih memiliki ciri letusan eksplosif. Lontaran material padat vulkanik pada letusan terbesar pada pukul 23.30 WIB mencapai ketinggian 17 kilometer, ketika letusan pertama melontarkan material hingga setinggi 3 kilometer.

Jangkauan abu vulkanik letusan Gunung Kelud pada malam itu pun menyebar luas mengikuti arah angin, menyebar luas di Jawa Tengah dan menjangkau Jawa Barat. Bisa jadi gabungan antara pembangunan saluran-saluran air yang telah menghadirkan 11 sungai berhulu di gunung itu, letusan efusif yang menyurutkan air danau kawah, dan persiapan yang lebih baik menjadi faktor yang meminimalkan jumlah korban.

Namun, barangkali pekerjaan rumah tetap belum habis. Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelud memiliki pola letusan berjeda pendek, antara 9 sampai 25 tahun. Walaupun korban jiwa yang jatuh dalam dua hari ini bukan karena dampak langsung letusan, tetapi fakta sangat pendeknya tenggat waktu antara peningkatan status Awas sampai terjadi letusan pada Kamis malam, tetap merupakan sebuah catatan baru.

Jarak waktu peningkatan status hingga terjadinya letusan, tak sampai dua jam. Kalaupun kutukan Lembu Sura tak lagi relevan sebagai mitos, barangkali perlu dibaca ada simbol-simbol budaya dalam tradisi lisan sebagai "kode" mitigasi bencana.

Percaya atau tidak, hari ini selain 11 sungai ada di Kediri, di Tulungagung pun ada Bendungan Wonorejo, dan Blitar menjadi sebidang tanah datar di kawasan yang dikelilingi danau dan sungai itu. Agak terdengar familiar? Betul, kalimat dalam legenda Lembu Sura.

Sumber: beragam sumber/Ekspedisi Cincin Api


http://nasional.kompas.com/read/2014/02/15/0925421/.Sepatan.Lembu.Sura.dan.Runtuhnya.Majapahit.Mitos.dan.Sains.Gunung.Kelud.

Kerajaan majapahit yang berdiri abad Xlll-XIV atau tahun 1293-1500 M oleh raden wijaya telah mengalami masa kejayaan terutama pada masa pemerintahan hayam wuruk sekitar tahun 1350-an hingga tahun 1389 M dengan patih gajahmada melalui sumpah palapa.Kurun waktu 202 tahun atau 2 abad lebih kerajaan majapahit mampu menguasai wilayah nusantara hingga semenanjung malaya membuat kerajaan majapahit sebagai kerajaan terbesar di nusantara .Kini pasca keruntuhan kerajaan majapahit lebih kurang 5 abad yang lalu masih dapat dilihat sisa-sisa kejayaan majapahit yang mencapai puluhan bahkan ratusan yang tersebar dikawasan mojokerto dan sekitarnya.Situs kerajaan majapahit ini dapat dijumpai salah satunya dikawasan kecamatan Trowulan ,mojokerto yang diduga menjadi pusat kerajaan majapahit dan hampir setiap sudut desa dikecamatan Trowulan dapat dengan mudah menemukan sisa-sisa peninggalan kerajaan majapahit belum lagi ratusan benda peninggalan majapahit yang belum terungkap dan tertimbun tanah situs ngliguk,trowulan misalnya yang ada didesa nglinguk .Di desa ini cukup banyak dijumpai peninggalan kerajaan majapahit seperti candi yang terbuat dari batu andesit kemudian pecahan tembikar,keramik,yoni,mata uang logam,sumur kono,tapi sayangnya situs majapahit di Nglinguk mengalami banyak kerusakan .Jejak sejarah majapahit tak kalah menarik candi brahu didesa Bejijong,trowulan masih terlihat utuh mengingat candi ini disinyalir sebagai tempat pembakaran jenazah atau kreamasi jenazah selanjutnya candi wringin lawang didukuh wringin,jatipasar berbentuk gapura juga diduga sebagai pintu gembar komplek kerajaan .Peninggalan majapahit di Trowulan ini umumnya berbentuk candi seperti candi tikus,kedaton dan beberapa candi unik lainnya dikawasan trowulao.Menariknya bahan bangunan peninggalan majapahit berasal dari bata merah sebagaimana terlihat dari hasil temuan dikawasan Trowulan belum lama ini salah satunya situs puri,sumber girang yang ada didesa puri .Di desa ini banyak ditemukan susunan bata merah yang diduga bekas rumah penduduk masa kerajaan majapahit dan uniknya bata merah sejenis ini dapat dengan mudah ditemui baik persawahan,pemukiman penduduk dan berbagai tempat dikawasan Trowulan.Peninggalan sejarah kerajaan majapahit selain berbentuk candi,tembikar,yoni ,mata uang juga ditemukan kolam kuno yang dikenal kolam segaran diduga sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu-tamu kerajaaan kemudian penemuan puluhan situs majapahit didesa trowulan yakni bangunan ,arca ,gerabah serta makam yang disinyalir sebagai pusat kerajaan sebagaimana tertulis dalam kitab kakawin nagarakertagama.Menariknya peninggalan sejarah majapahit tidak terbatas pada cagar budaya tetapi mampu menciptakan seni budaya sebagai cikal bakal kebudayaan baru di Indonesia salah satu seni terakota atau kerajinan tanah liat/batu bata yang tersebar di Trowulan dan sekitarnya.Seni terakota yang berkembang di Trowulan sebagaimana penemuan beberapa cagar budaya yang terbuat dari tanah merah seperti jambangan ,genting,batu merah ,vas bunga dan lainnya diduga sebagai mata pencaharian penduduk pada masa majapahit.Seni terakota dimasa majapahit masih menggunakan metode sederhana penjemuran dengan sinar matahari serta metode pembakaran yang tetap bertahan hingga khni.Sayangnya beragam peninggalan cagar budaya yang banyak ditemukan dalam kawasan trowulan dan sekitarnya terancam punah pasalnya pengrajin batu bata seringkali menemukan batu batu kuno atau benda purbakala saat menggali dan mencari tanah merah sebagai bahan pembuatan batu bata kemudian batu bata kuno maupun benda purbakala lainnya bukannya diserahkan pada pihak berwenang melainkan diperjualbelikan secara bebas ,akibatnya setiap ada penemuan baru cagar budaya keselamatannya tidak dapat dijamin kadang hilang entah kemana.Situs majapahit dikawasan Trowulan bernilai historis dan peradapan yang tinggi dan sesungguhnya bila dikembangkan secara proporsional tidak kalah dengan situs dinegara mesir atau italia

Sumber : http://nantly.mywapblog.com/
Letak Geografis Kerajaan Majapahit
Secara geografis letak kerajaan Majapahit sangat strategis karena adanya di daerah lembah sungai yang luas, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo, serta anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu.
Sejarah Terbentuknya Kerajaan Majapahit

Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Raja-raja Majapahit
  • Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)
Merupakan pendiri kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberi kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang, Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan sangat baik dan bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.
  • Raja Jayanegara (1309-1328)
Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya ditandai dengan pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231 saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti adalah pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Namun semua itu dapat diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh Gajah Mada.
  • Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350)
Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, oleh karena itu yang seharusnya menjadi raja adalah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, yang dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 timbul pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat Patih Daha. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala dan Adityawarman. Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :”Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa”. Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan
Hayam Wuruk
Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai keemasannya. Dari Kitab Negerakertagama dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke negara-negara tettangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri Sunda bunuh diri.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang mahapatih yang tak ada duanya. Untuk memilih penggantinya bukan suatu pekerjaan yang mudah. Dewan Saptaprabu yang sudah beberapa kali mengadakan sidang untuk memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan bahwa Patih Hamungkubhumi Gajah Mada tidak akan diganti “untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan diangkat Mpu Tandi sebagais Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara dan patih dami sebagai Yuamentri. Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.
  • Wikramawardhana
Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi disebut perang Paregreg.
Wikramawardhana meninggal tahun 1429, pemerintahan raja-raja berikutnya berturut-turut adalah Suhita, Kertawijaya, Rajasa Wardhana, Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan kekuasaan.
Sumber Sejarah berdirinya Kerajaan Majaahit
Sumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit berasal dari berbagai sumber yakni :
Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan
Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit
Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam Hayam Wuruk ke Jawa Timur.
Kehidupan Politik
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa dan Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370 – 1381, Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.
Raja kerajaan Majapahit sebagai negarawan ulung juga sebagai politikus-politikus yang handal. Hal ini dibuktikan oleh Raden Wiajaya, Hayam Wuruk, dan Maha Patih Gajahmada dalam usahanya mewujudkan kerajaan besar, tangguh dan berwibawa. Struktur pemerintahan di pusat pemerintahan Majapahit :
1. Raja
2. Yuaraja atau Kumaraja (Raja Muda)
3. Rakryan Mahamantri Katrini
a. Mahamantri i-hino
b. Mahamantri i –hulu
c. Mahamantri i-sirikan
4. Rakryan Mahamantri ri Pakirakiran
a. Rakryan Mahapatih (Panglima/Hamangkubhumi)
b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler) dan
e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)
5. Dharmadyaka yang diduduki oleh 2 orang, masing-masing dharmadyaka dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut Upapat. Pada masa hayam Wuruk ada 7 Upapati.
Selain pejabat-pejabat yang telah disebutkan dibawah raja ada sejumlah raja daerah (paduka bharata) yang masing-masing memerintah suatu daerah. Disamping raja-raja daerah adapula pejabat-pejabat sipil maupun militer. Dari susunan pemerintahannya kita dapat melihat bahwa sistem pemerintahan dan kehidupan politik kerjaan Majapahit sudah sangat teratur.
Kehidupan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan Kerajaan Majapahit
Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangat mendukung dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan). Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan yang menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.
Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas dan kayu cendana.
Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting.
Sebagai kerajaan Produsen – Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas dengan kondisi tanah yang sangat subur. Dengan daerah subur itu maka kerajaan Majapahit merupakan produsen barang dagangan.
Sebagai Kerajaan Perantara – Kerajaan Majapahit membawa hasil bumi dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya. Keadaan masyarakat yang teratur mendukung terciptanya karya-karya budaya yang bermutu. bukti-bukti perkembangan kebudayaan di kerajaan Majapahit dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan berikut ini :
Candi : Antara lain candi Penataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan candi Tikus (Trowulan).
Sastra : Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadi
Sastra Zaman Majapahit Awal
Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca
Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular
Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular
Kitab Kunjarakarna
Kitab Parhayajna
Sastra Zaman Majapahit Akhir
Hasil sastra zaman Majapahit akhir ditulis dalam bahasa Jawa Tengah, diantaranya ada yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) dan yang ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Hasil sastra terpenting antara lain :
Kitab Prapanca, isinya menceritakan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Sundayana, isinya tentang peristiwa Bubat
Kitab Sarandaka, isinya tentang pemberontakan sora
Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
Panjiwijayakrama, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan Keraton Majapahit ke Gelgel dan penumpasan raja raksasa bernama Maya Denawa.
Kitab Usana Bali, isinya tentanng kekacauan di Pulau Bali.
Selain kitab-kitab tersebut masih ada lagi kitab sastra yang penting pada zaman Majapahit akhir seperti Kitab Paman Cangah, Tantu Pagelaran, Calon Arang, Korawasrama, Babhulisah, Tantri Kamandaka dan Pancatantra.

Sumber: Wikipedia dan http://nesaci.com/sejarah-lengkap-kerajaan-majapahit/