Daftar Ormas Penghayatan Kepercayaan Tuhan YME


NO.
N A M A ORGANISASI
SUSUNAN PENGURUS
MASA BAKTI
A L A M A T DAN NO TELEPON SEKRETARIAT
NO. DAN TANGGAL REGISTRASI
KETERANGAN
1
2
3
4
5
6
7
1Dewan Pengurus Wilayah Badan Kerja Sama Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (B.K.O.K.) Provinsi Jawa TimurK : Naen Soeryono, S.H.M.H Jl. Klampis Semolo Timur XII No. 1 Surabaya, telp 5999729, 08123525049, 77499009
08/VIII/Penghayat Kepercayaan/2010

20 Agustus 2010

S : Ibu Djulaikah S
B : Soetarto
2DPW Paguyuban Jiwa Diri Pribadi Provinsi Jawa Timur

K : Sutikno Jl. Pakis Tirtosari V/39 Surabaya
Telp. 7248351
04/III/Penghayat Kepercayaan/ 2009

31 Maret 2009

S : Supramono
B : Djuweni
3Persatuan Warga Sapta Dharma (PERSSADA)K : Ir. Purnomo
2010 – 2015
Jl. Kedung Anyar II/24 Surabaya Hp. 0819311076858
17/IX/Penghayat Kepercayaan/ 2011

12 September 2011

S : Hari Nugroho
B : Subagio
4Paguyuban Olah Roso Sejati Prop. Jatim.K : Sunar Jl. Raya Tropoda Perum P dan K No. 15 Sidoarjo, Telp. 8682260 Non aktf
S : Sutris SukarsonoJl. Banyuurip No. 308 Surabaya
Telp. 5461353
5Dewan Pengurus Daerah Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (HPK) Provinsi Jawa TimurK : Ir. Hadi Pradjoko, SH, MH
2011 - 2016
Jl. Rungkut Menanggal Utara XII No. 50 Surabaya/Jl. Rungkut Mananggal Harapan Blok I-34 Surabaya
Telp. 031 - 8711975
00-203.1-00/0003/VII/2012

16 Juli 2012

S : Herry Ispurnomo, MBA
B : Hardjoko Soebagio
6Badan Pengurus Harian Provinsi Jawa Timur ”Paguyuban Penghayat KepribadenK : Drs Ec Nur Yanto, MM
2007 – 2012
Jl Banyuurip No 278 Surabaya telp 5465502-7347585-081331697585
07/XI/Penghayat Kepercayaan/2009

11 November 2009

S : Abdul Majid, SH
B : Suwarno
7Dewan Permasyarakatan Daerah (DPD) Kebatinan “Perjalanan” Provinsi Jawa TimurK : Poerwanto
2008 – 2013
Jl. Karah II No. 39 B Surabaya, Telp. 8287248
02/XI/Penghayat Kepercayaan/2008, 17 Nopember 2008

S : Djoko Werdoyo
B : Harsoyo
8Dewan Permusyawaratan Daerah Provinsi Jawa Timur “BUDI DAYA”K : Soekadar
-
Jl. Kapten Tendean 235 Kediri (0354) 673078
01/XI/Penghayat Kepercayaan/2008

17 Nopember 2008

S : Triyowarseno
B : Ngaridi
9Dewan Musyawarah Daerah (DMD) Aliran Kebatinan Perjalanan Jawa TimurK : BIYANTO W.U2004 - 2009Jl.Dr. Sutomo Gang II Kel kretek Tulungagung
Telp. 0858 -505058850351 – 496955
HP. 081615436749
03/III/Penghayat Kepercayaan/2009

31 Maret 2009
 
S : SUPADMO .W
B : SUPRAPTO
10Paguyuban Sami Rahayu Rukun Agawe Santoso (SARAS)K : H Fadoli Faid Jl. Pucang Rinenggo 48 Surabaya 7313490, 50119168, 0811334166 Non aktif
S : Hudi SuhartoJl. Halmahera 20 B, Jember.
B : HM SuryonoJl. Darmo Harapan Utara VII/EY 12 A Surabaya.
11
DPD Paguyuban Sumarah Provinsi Jawa TimurK : Hari Nugroho
2008 - 2009
Jl. Simomulyo Baru I H/2 Surabaya
Telp. 031 - 7321135
05/III/Penghayat Kepercayaan/2009

31 Maret 2009
 
S : Djaja Surya K
B : Ny, Florensia Lili
12.
Dewan Pengurus Daerah ”Ngudi Utomo” Jawa TimurK : Eko Kamin
2008 - 2013
Jl. Krembangan Buyut Gg Buntu 12 Surabaya
telp 3554237
06/VIII/Penghayat Kepercayaan/2009

24 Agustus 2009
 
S : FX Andri
B : Dwi Agustin
13.
Dewan Pengurus Pusat Paguyuban ”DARMA BAKTI”K : Hadi Suyono
2007 - 2012
Jl. Bareng Raya II N/564 Malang
Telp. (0341) 348030
09/XI/Penghayat Kepercayaan/2010

27 Agustus 2010
 
S : Tamno
B : Sumanto
14.
DPW Perguruan Ilmu Jiwa Provinsi Jawa TimurK : Sadji
2009 - 2014
Granting Baru V / 30 A Surabaya
Telp. 031 – 3732327, 92030742
7523023
10/II/Penghayat Kepercayaan/2011

1 Pebruari 2011
 
S : Nurwati
B : Gunawan
15.
Perhimpunan Kepribadian IndonesiaK : Samsuri
2008 - 2013
Jl. Margodadi IV/15 B Surabaya
Telp. 031-5474670
11/III/Penghayat Kepercayaan/2011

18 Maret 2011
 
S : Putut Sariono, BSc
B : Tri Wahyudi
16.
Dewan Pengurus Daerah Paguyubabn Sapta Sila Provinsi Jawa TimurK : Supami


2010 - 2015
Jl. Raya Ponorogo No. 591 RT. 1Ds. Sumerejo Kec. Geger Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur
Telp. 031 – 78266947
12/V/Penghayat Kepercayaan/2011

5 Mei 2011
 
S : Purwanto Hadi
B : Solikin
17.
Dewan Pengurus Wilayah ”Kawruh Sadulur Sejati” Provinsi Jawa TimurK : Drs. H. Soedarsid2011 - 2016Pliwetan RT.02/III No. 02 Kecamatan Palang Kabupaten Tuban
Telp. 0356 – 325773
HP. 081335745723
085230362554
13/V/Penghayat Kepercayaan/2011

23 Mei 2011
 
S : Edi Marhendayana, Spi
B : Sukotjo
18.
Kepercayaan Sapto Darmo Provinsi Jawa TimurK : Bakri
2011 - 2016

Jl. Darmo Permai Selatan XVIII/21 Surabaya
Telp. 031 – 8975374, 70762525
15/VIII/Penghayat Kepercayaan/2011

19 Agustus 2011
 
S : Eko Sugeng Purnomo
B : Dra. Setyaningsih

Sumber : bakesbang
OLYMPUS DIGITAL CAMERA Malang, 12 November 2013 – Sarasehan Musyawarah Luar Biasa Himpunan Penghayat Kepercayaan yang berlangsung di Gedung Gelombang Samudra Pangkalan TNI-AL, Jalan Tanimbar, Malang dengan pembicara Kamaluddin, SH dan Sekretaris Jenderal AMAN Abdon Nababan, serta moderator Ir. Hadi Prajoko, SH, MH.
Abdon Nababan yang mendapat kesempatan pertama menyampaikan pandangannya mengatakan. “Kalau untuk mencintai negeri ini kita mesti membenci pemerintah memangnya kenapa? Karena pemerintah bisa berganti. Pemerintah hari ini adalah pemerintah yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Jika kita tidak suka satu rezim pemerintah karena tidak menjalankan amanat konstitusi, kan boleh? Saya hanya mau meyakinkan bahwa kita tidak sedang di luar jalur konstitusi. Kita mau menegakkan hak-hak konstitusional rakyat Indonesia.”
Abdon menjelaskan bahwa ada empat hak dasar masyarakat adat, yaitu hak atas identitas budaya, hak atas sistem pengetahuan sistem nilai norma, hak atas hukum dan kelembagaan adat, dan hak atas agama. “Ini harus diperjuangkan dan saya merasa haruslah jadi perjuangan kita bersama, bukan hanya perjuangan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Karena bagaimana pun kuatnya perjuangan AMAN diorganisir seperti yang sekarang dilakukan, tapi kalau masyarakat adat dengan kelompok seperti penghayat kepercayaan dan banyak lagi kelompok lain  yang hak konstitusionalnya diabaikan oleh penyelenggara negara tidak berjuang bersama-sama maka akan sulit berhasil,” kata Abdon.
Menurut Sekjen AMAN, upaya-upaya bersama ini harus dilakukan untuk mendorong bahwa agama-agama asli leluhur diperhatikan oleh pemerintah. “Bila perlu, diajukan uj materi undang-undangnya di Mahkamah Konstitusi. Menurut saya membiarkan bahwa seolah-olah di Nusantara hanya ada enam agama, kita ikut bersalah kalau hal itu kita biarkan menjadi kebenaran. Saya mengajak Himpunan Penghayat Kepercayaan untuk bersama-sama melakukan uji materi,” himbaunya.
Disamping mengadakan uji materi, saat ini AMAN sedang memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU PPHMA). Abdon memaparkan, “Rancangannya kami siapkan, kami sampaikan ke Badan Legislasi DPR, mereka bahas dan sekarang sudah menjadi RUU Inisiatif DPR RI. Pansus sudah dibentuk oleh DPR RI dan Presiden sudah membentuk empat kementerian untuk membahas ini dengan DPR RI.”
“Salah satu hak yang AMAN perjuangkan dalam RUU PPHMA itu adalah hak atas agama asli,” tambah Abdon.
Ketua AMAN Kalimantan Tengah Simpun Sampurna menanggapi pemaparan Kamaluddin, SH yang membawa konsep Hukum Negara Majapahit yang mengatakan masalah pecantuman agama leluhur dalam KTP kurang penting dibandingkan pembentukan Majelis Adat Nusantara.
Simpun menyatakan, Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan harus diuji materi, karena KTP itu penting sebagai alat kelengkapan dalam usaha ekonomi, pendidikan anak, dan akses kesehatan anak. Sejalan dengan Simpun, Glorio Sanen mengatakan bahwa KTP itu penting karena masyarakat adat dapat menggunakan suaranya dalam pemilihan umum. Sanen mengutip falsafah hidup Dayak. “Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Suraga, Basengat Ka’ Jubata (Keadilan bagi seluruh manusia, bersikap dan bertindak sesuai dengan perintah Ketuhanan Yang Maha Esa). Hidup di kandung adat mati di kandang tanah,” ujar Sanen yang disambut tepuk tangan hadirin.
Moderator Hadi Prajoko menyatakan, banyak orang selalu mengatakan antikapitalisme namun tidak pernah membangun dirinya lewat budaya. “Jangan hanya bicara nasionalisme tapi tidak berakar budaya,” katanya.*** JLG
 http://www.aman.or.id/2013/11/12/sarasehan-munaslub-himpunan-penghayat-kepercayaan-terhadap-tuhan-yang-maha-esa/
Mungkin diantara teman teman pernah / sering menemukan keris2 sepuh dengan kondisi warangka yg masih original, jika kondisi bilah kurang terawat (karatan) pasti bilah langsung dibersihkan, diwarangi & diminyaki saja, dan jika warangka kondisi masih layak pakai pun biasanya juga hanya langsung dipakai kembali. 



Warangka Original yg sudah berpuluh-puluh tahun mungkin ratusan tahun dipakai tentunya di dalam gandarnya sudah menjadi sumber karat atau banyak biang karat yg menempel pada kayu gandarnya. 

  • Seyogyanya kayu gandar warangka tersebut diganti dengan yg baru sehingga kondisi pusaka benar benar sudah bebas dari biang karat. 
  • Kayu pengganti gandar pun diusahakan dengan bahan kayu yg lunak sehingga bilah tidak kalah jika terpaksanya nggesrek gandar.. 
  • Jika habis memberi minyak, pusaka lalu di angin anginkan dulu, jangan memasukkan bilah pada warangka dengan kondisi terlalu basah oleh minyak karena bisa menyebabkan bilah jamuran.. 
  • Usahakan paling tidak sebulan sekali bilah di keluarkan agar mendapatkan hawa segar (ini bisa dilakukan saat memberikan minyak) 
  • Sebaiknya pusaka tersimpan dengan di tutup dengan kain singep (selongsong) yg biasanya terbuat dari kain, sebaiknya jangan memberikan bunga saat keris dalam singep / selongsong, karena uap dari bunga2 tersebut akan menimbulkan zat-zat yg mungkin akan menyebabkan bilah menjadi rusak.....

Sumber :



Seorang teman menangguh bawa keris Nogo Kikik Pamor Melati Tumpuk seperti pada gambar disamping, dengan menyebut sebagai tangguh guling majapahit, lucunya ketika saya coba mencari referensi tentang tangguh guling majapahit di internet tidak ada rangkaian kata yang sama di google search yang menyebutkan tentang tangguh guling majapahit, yang ada adalah guling mataram :)
Mungkin dengan menulis ini akan memudahkan blog ini di cari oleh mesin pencari dengan pencarian kata "tangguh guling majapahit" :)
Konon keris tangguh guling majapahit ini banyak dicari, betulkah begitu? :)
Untuk itu, ada baiknya saya kutipkan bagian dari artikel tentang Istilah Keris dari Web Java Keris berikut ini adalah kutipannya : 
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya.
Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris  Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat. 
Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta, melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh tangguh itu adalah:


  1. Pajajaran  
  2. Tuban    
  3. Madura       
  4. Blambangan   
  5. Majapahit
  6. Sedayu     
  7. Jenu     
  8. Tiris-dayu  
  9. Setra-banyu 
  10. Madiun 
  11. Demak 
  12. Kudus 
  13. Cirebon     
  14. Pajang       
  15. Pajang 
  16. Mataram   
  17. Ngenta-enta,Yogyakarta 
  18. Kartasura    
  19. Surakarta


Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu:
  1. Tangguh Segaluh    
  2. Tangguh Pajajaran    
  3. Tangguh Kahuripan      
  4. Tangguh Jenggala     
  5. Tangguh Singasari          
  6. Tangguh Majapahit 
  7. Tangguh Madura              
  8. Tangguh Blambangan    
  9. Tangguh Sedayu             
  10. Tangguh Tuban       
  11. Tangguh Sendang            
  12. Tangguh Pengging
  13. Tangguh Demak               
  14. Tangguh Panjang     
  15. Tangguh Madiun             
  16. Tangguh Koripan     
  17. Tangguh Mataram Senopaten   
  18. Mataram Sultan Agung     
  19. Mataram Amangkuratan     
  20. Tangguh Cirebon     
  21. Tangguh Surakarta           
  22. Tangguh Yogyakarta   
Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan yang palsu.

Sumber : http://www.geocities.ws/javakeris/istilah.htm 

 1. Keris Mpu Gandring

Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok.
Keris ini dibuat oleh Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.
Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Setelah  keris selesai, Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris . Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan harus diambil. 
Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat). 
Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yaitu Tunggul Ametung, Ken Arok, Anusapati dan keturunan Ken Arok. 

2.  Keris Pusaka Setan Kober

Keris  Pusaka Setan Kober dibuat oleh Mpu Supo Mandrangi , putra seorang empu di Tuban , Jawa Timur. Supo Mandrangi kemudian memeluk agama Islam dengan menjadi murid Sunan Ampel, dengan tetap membawa kemampuannya membuat keris. Banyak keris pusaka dibuat oleh Mpu Supo, diantaranya adalah Keris Pusaka Setan Kober, selain karya monumentalnya, Kanjeng Kyai Sengkelat dan Kanjeng Kyai Nogososro . Keris Pusaka Setan Kober , aslinya bernama 'Bronggot Setan Kober' , dibuat pada awal kerajaan Islam Demak Bintoro. Dan Keris tersebut kemudian dimiliki oleh Djafar Shodiq atau Sunan Kudus yang kemudian diberikan pada murid kesayangannya Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan

Keris ini dikenakan Arya Penangsang  pada waktu ia perang tanding melawan Sutawijaya. Tapi tak diketahui sesungguhnya dapur / bentuknya seperti apa.

Suatu saat tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai.

Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus bertempur. Saat berikutnya , Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera penuntaskan perang tanding tersebut, dengan mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris (menghunus), dan tanpa sadar bahwa wilah(an) atau mata keris Setan Kober langsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Ia tewas seketika.

Ki Juru Mertani ( penasehat Sutawijaya ) terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atau ronce bunga melati, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini. 

3. Keris Kyai Sengkelat

Tidak banyak cerita yang bisa dirunut atau dipercaya mengenai keris kyai Sengkelat ini. Yang banyak justru cerita mitosnya. Namun yang terkenal bukan kerisnya melainkan justru Empu pembuatnya yaitu Empu Supa.

Cerita keris kyai sengkelat berkisar di abad 15 pada jaman Majapahit diperintah Prabu Kertabumi atau Brawijaya-V. 

Konon kyai sengkelat pernah dicuri oleh adipati Blambangan, namun berhasil dikembalikan lagi oleh Empu Supa tanpa melalui pertumpahan darah. 

4. Keris Kyai Carubuk

Sama dengan keris sengkelat, tidak banyak rujukan tertulis yang bisa dicari, melainkan banyak sekali cerita mitosnya.

Sepanjang rujukan ini bisa dipercaya, keris carubuk seangkatan keris kyai sengkelat.  

5. Keris Naga Sasra Sabuk Inten

Keris  Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten adalah dua benda pusaka peninggalan Raja Majapahit. Nagasasra adalah nama salah satu dapur (bentuk) keris luk tiga belas dan ada pula yang luk-nya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luk-nya.

Nama keris Nagasasra (tanpa menyebutkan dapur) menjadi terkenal karena menjadi topik dalam cerita silat karya S.H. Mintarja, diceritakan bahwa Mahesa Jenar, salah satu muridnya Syeh Siti Jennar, mantan perwira tinggi kerajaan Demak pada masa kerajaan Demak Bintoro mencari kedua benda pusaka tersebut yang konon bagi siapa yang mendapatkannya akan menjadi pewaris sah tahta kerajaan Demak. 

6. Keris Kanjeng Kyai Condong Campur

Keris Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.

Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.

Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.

Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Sabuk Inten kalah.

Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus(komet atau bintang berekor), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara, yang dalam bahasa Jawa disebut ontran-ontran.

 http://indokeris.blogspot.co.id/2013/01/7-keris-pusaka-legendaris.html



Ketik "Keris Berdiri" pada google search, klik images, enter.... maka akan tampil sederetan keris berdiri dengan berbagai macam pose, layaknya seorang peragawan/peragawati tampil di depan kamera, dan ketika ada klik salah satunya maka akan banyak informasi yang anda dapatkan tentang apa, dimana, siapa, bagaimana bahkan mungkin harga, mahar dan lain sebagainya.

Cerita tentang akal-akalan membuat keris berdiri dengan memberikan tiga kawat baja diunjung keris, maupun di ganggang/pegangan memyerupai kaki meja pernah saya dengar, sehingga ketika saya tanyakan tentang ada nggak keris berdiri dan mendapatkan jawaban "ada, yang kasar Rp. 500.000, dan yang halus Rp. 700.000", yang saya pikirkan adalah keris baru yang memang direkayasa untuk itu..... tidak sempat melihat keris dimaksud, hanya sekedar tanya.... tetapi kalau melihat karakter teman saya yang satu ini kalau saya bilang iya, tentu akan dicarikan :)

Beberapa waktu kemudian seorang teman bercerita kalau pada prinsipnya setiap keris dapat di buat berdiri (didekne). Saya kira pernyataan ini terlalu di dramatisisir, karena tidak setiap keris bisa di berdirikan atau dibuat berdiri, karena pada kenyataanya memang demikian.

Tulisan dibawah ini semoga dapat menjawab penasaran pembaca tentang keris berdiri.

Pada prisipnya keris berdiri dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok :
Keris Melati Sinebar tangguh Majapahit
  1. Keris itu memang bisa berdiri, dimedan apapun dan tidak ada pengaruh orang yang mendirikan, bisa berdiri siapapun yang membuatnya berdiri dan bahkan ada keanehan lain ;
  2. Tergantung siapa yang membuatnya berdiri, dan bisa berdiri di medan apapun, biasanya kalau orang yang mendirikan kita pengaruhi (konsentrasinya) keris akan roboh;
  3. Keris berdiri karena keseimbangan, bisa dibuat berdiri oleh siapapun asal hati-hati mendirikannya dan medannya harus kasar
Untuk yang pertama dan yang kedua, tidak akan saya bahas disini karena saya bukan ahlinya :)


Untuk keris berdiri karena keseimbangan, dapat anda coba pada keris-keris sepuh, yang pernah saya coba keris tangguh Mataram, Majapahit, Tuban dan tangguh Kediri. Ini benar benar keseimbangan dan dapat dilakukan oleh siapapun, terbukti ketika saya dolan ke rumah teman yang menunjukkan keris gonjo wilut dandang lak yang jadi koleksinya, saya taruh di plester rumahnya yang saya lihat agak kasar dan saya tempelkan warangkanya, keris pun berdiri. Sambil terheran-heran teman memandang keris, sambil sekali sekali melirik saya (pikirnya punya kemampuan khusus kali :) ).

"Bukan, ini bukan mistis, tapi semata mata karena keseimbangan",  saya coba menjelaskan, begitulah keris sepuh detail design nya  dibuat sedemikian rupa, sehingga ujungnya ditaruh dilantai dan hanya menempel pada warangka yang tingginya hanya 2 cm mampu untuk berdiri. Meskipun tidak semua keris sepuh bisa berdiri juga.

Keris Jalak Ruwuh Tangguh Majapahit
Setelah tahu hal tersebut, teman tadi beberapa hari kemudian menunjukkan beberapa foto keris orang tuanya di buat berdiri.... hanya dengan melihat, bisa melakukan. Bukan sulap bukan sihir :)

Untuk itu saya tampilkan  3 (tiga) gambar, gambar pertama dapat berdiri karena diatas meja yang ada taplaknya dan yang kedua dan ketiga diatas lantai keramik, tapi coba perhatikan dengan seksama keris berdiri bukan diatas keramik, tapi tepat di sambungan keramik :)
Bagaimana dengan keris berdiri diatas kaca, lain kali semoga dapat memberikan "trik" nya, masih belajar dulu :)

Bagaimana dengan keris baru, keris kamardikan dan keris-keris hasil rehapan atau keris semi daur ulang?
Saya kira pada prinsipnya sama, jika detail design keris seimbang tentu bisa berdiri, pembicaraan ini diluar keris yang pertama dan kedua.
http://indokeris.blogspot.co.id/2013/01/rahasia-keris-berdiri.html



Keris ialah sejenis senjata pendek kebangsaan Melayu yang digunakan sejak melebihi 600 tahun dahulu. Senjata ini memang unik di dunia Melayu dan boleh didapati di kawasan berpenduduk Melayu seperti Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan(Mindanao), dan Brunei.

Keris digunakan untuk mempertahankan diri (misalnya sewaktu bersilat) dan sebagai alat kebesaran diraja. Senjata ini juga merupakan lambang kedaulatan orang Melayu. Keris yang paling masyhur ialah keris Taming Sari yang merupakan senjata Hang Tuah, seorang pahlawan Melayu yang terkenal.

Keris berasal dari Kepulauan Jawa dan keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan abad ke-14. Senjata ini terbahagi kepada tiga bahagian, yaitu mata, hulu dan sarung. Keris sering dikaitkan dengan kuasa mistik oleh orang Melayu pada zaman dahulu. Antara lain, terdapat kepercayaan bahwa keris mempunyai semangatnya yang tersendiri. 

Keris menurut amalan Melayu tradisional perlu dijaga dengan cara diperasapkan pada masa-masa tertentu, malam Jumat misalnya. Ada juga amalan mengasamlimaukan keris sebagai cara untuk menjaga logam keris dan juga untuk menambah bisanya. Ada pepatah yang menyatakan : “Penghargaan pada seseorang tergantung karena busananya.” Mungkin pepatah itu lahir dari pandangan psikolog yang mendasarkan pada kerapian, kebersihan busana yang dipakai seseorang itu menunjukkan watak atau karakter yang ada dalam diri orang itu. Di kalangan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya untuk suatu perhelatan tertentu, misalnya pada upacara perkawinan, para kaum prianya harus mengenakan busana Jawi jangkep (busana Jawa lengkap).

Dan kewajiban itu harus ditaati terutama oleh mempelai pria, yaitu harus menggunakan/memakai busana pengantin gaya Jawa yaitu berkain batik, baju pengantin, tutup kepala (kuluk) dan juga sebilah keris diselipkan di pinggang. Mengapa harus keris? Karena keris itu oleh kalangan masyarakat di Jawa dilambangkan sebagai symbol “kejantanan.” Dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka. 

Pandangan ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat Jawa dulu, bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu dari menyatunya unsur lelaki dengan unsur perempuan. Di dunia ini Allah Swt, menciptakan makhluk dalam dua jenis seks yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Kepercayaan pada filsafat agraris ini sangat mendasar di lingkungan keluarga besar Karaton di Jawa, seperti Karaton Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan lain-lain. Kepercayaan itu mulanya dari Hinduisme yang pernah dianut oleh masyarakat di Jawa. Lalu muncul pula kepercayaan tentang bapa angkasa dan ibu bumi/pertiwi. Yang juga dekat dengan kepercayaan filsafat agraris di masyarakat Jawa terwujud dalam bentuk upacara kirab pusaka pada menjelang satu Sura dalam kalender Jawa dengan mengkirabkan pusaka unggulan Karaton yang terdiri dari senjata tajam: tombak pusaka, pisau besar (bendho). Arak-arakan pengirab senjata pusaka unggulan Karaton berjalan mengelilingi komplek Karaton sambil memusatkan pikiran, perasaan, memuji dan memohon kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, untuk beroleh perlindungan, kebahagiaan, kesejahteraan lahir dan batin. 

Fungsi utama dari senjata tajam pusaka dulu adalah alat untuk membela diri dari serangan musuh, dan binatang atau untuk membunuh musuh. Namun kemudian fungsi dari senjata tajam seperti keris pusaka atau tombak pusaka itu berubah. Di masa damai, kadang orang menggunakan keris hanya sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran saat temu pengantin. Maka keris pun dihias dengan intan atau berlian pada pangkal hulu keris. Bahkan sarungnya yang terbuat dari logam diukir sedemikian indah, berlapis emas berkilauan sebagaikebanggaan pemakainya. Lalu, tak urung keris itu menjadi komoditi bisnis yang tinggi nilainya. 

Tosan Aji atau senjata pusaka itu bukan hanya keris dan tombak khas Jawa saja,melainkan hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki senjata tajam pusaka andalan,seperti rencong di Aceh, badik di Makasar, pedang, tombak berujung tig (trisula), keris bali, dan lain-lain.

Ketika Sultan Agung menyerang Kadipaten Pati dengan gelar perang Garudha Nglayang, Supit Urang, Wukir Jaladri, atau gelar Dirada Meta, prajurit yang mendampingi menggunakan senjata tombak yang wajahnya diukir gambar kalacakra. Keris pusaka atau tombak pusaka yang merupakan pusaka unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada Sang Maha Pencipta Alam (Allah SWT) dengan suatu upaya spiritual oleh Sang Empu. Sehingga kekuatan spiritual Sang Maha Pencipta Alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu. Pernah ada suatu pendapat yang berdasarkan pada tes ilmiah terhadap keris pusaka dan dinyatakan bahwa keris pusaka itu mengeluarkan energi/kekuatan yang tidak kasat mata (tak tampak dengan mata biasa). Yang menarik hati adalah keris yang dipakai untuk kelengkapan busana pengantin pria khas Jawa. Keris itu dihiasi dengan untaian bunga mawar melati yang dikalungkan pada hulu batang keris. Ternyata itu bukan hanya sekedar hiasan, melainkan mengandung makna untuk mengingatkan orang agar jangan memiliki watak beringas, emosional, pemarah, adigang-adigung-adiguna, sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri seperti watak Harya Penangsang. 

Kaitannya dengan Harya Penangsang ialah saat Harya Penangsang berperang melawan Sutawijaya, karena Penangsang pemarah, emosional, tidak bisa menahan diri, perutnya tertusuk tombak Kyai Plered yang dihujamkan oleh Sutawijaya. Usus keluar dari perutnya yang robek. Dalam keadaan ingin balas dendam dengan penuh kemarahan Penangsang yang sudah kesakitan itu mengalungkan ususnya ke hulu keris di pinggangnya. Ia terus menyerang musuhnya. Pada suatu saat Penangsang akan menusuk lawannya dengan keris Kyai Setan Kober di bagian pinggang, begitu keris dihunus, ususnya terputus oleh mata keris pusakanya. Penangsang mati dalam perang dahsyat yang menelan banyak korban. Dari peristiwa itulah muncul ide keris pengantin dengan hiasan untaian bunga mawar dan melati.

Tosan aji atau senjata pusaka seperti tombak, keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang luar biasa kepada pemilik atau pembawanya. Orang menyebut itu sebagai piyandel, penambah kepercayaan diri, bahkan keris pusaka atau tombak pusaka yang diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu mengandung kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu. Namun manakala kepercayaan sang raja itu dirusak oleh perilaku buruk sang adipati yang diberi keris tersebut, maka keris pusaka pemberian itu akan ditarik/diminta kembali oleh sang raja.

Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyarakat Jawa diartikan secara filosofi sebagai hubungan akrab, menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup di dunia. Maka lahirlah filosofi “manunggaling kawula – Gusti”, bersatunya abdi dengan rajanya, bersatunya insan kamil dengan Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, sehingga kehidupan selalu aman damai, tentram, bahagia, sehat sejahtera. Selain saling menghormati satu dengan yang lain masing-masing juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar.

Namun demikian, makna yang dalam dari tosan aji sebagai karya seni budaya nasional yang mengandung pelbagai aspek dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya,kini terancam perkembangannya karena aspek teknologi sebagai sahabat budayanya kurang diminati ketimbang aspek legenda dan magisnya.
https://aurapusaka.wordpress.com/2012/10/23/pamor-keris-gambar-dan-macamnya/